Blog •  28/01/2020

3 Varietas Padi Lokal Petani Pecahkan Rekor MURI di Festival Padi 2019

Festival Padi 2019 yang digelar di Desa Kalensari, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat beberapa waktu lalu memberikan hasil yang positif bagi dunia pertanian. Selama Festival Panen Padi 2019 ini terkumpul 360 varietas padi yang merupakan karya petani kecil untuk kemudian diseleksi lebih lanjut. 

Hasil seleksi ini memperoleh 90 varietas berbeda dan ditanam serentak pada 9 hektare lahan di Desa Kalensari tersebut beberapa bulan sebelum acara Festival Padi 2019 berlangsung. Selama kurun waktu Maret hingga 30 April 2019, dilakukan panen 90 varietas di lokasi ‘Nandur Bareng’. Dalam festival ini pula Museum Rekor Indonesia (MURI) melakukan verifikasi dan memberikan penghargaan ‘Panen Padi dengan Varietas Terbanyak’.

Kriteria penilaian oleh MURI

MURI memiliki kriteria tersendiri dalam menghitung dan mengukur varietas padi tersebut sehingga berhak menyandang padi terbaik dengan hasil panen melimpah. Produktivitas padi dari ketiga varietas tersebut diukur berdasarkan total hasil panen dari pertanaman pada lahan seluas 0,5 hektare. Dengan kriteria tersebut maka hasilnya adalah varietas padi IF16 memiliki potensi hasil 14 ton per hektar. Sementara untuk varietas padi IF17 menghasilkan potensi 10 ton per hektarnya dan untuk varietas IF18 memiliki potensi sekitar 9 ton per hektarnya.

Varietas padi lokal unggulan

Lalu, apa saja keunggulan dari varietas padi yang masuk dalam rekor MURI dalam Festival Padi 2019? Mungkin sebagian orang telah mengetahui varietas ini, namun di sisi lain masih banyak masyarakat yang belum mengetahui apa itu varietas padi tersebut dan apa saja keunggulannya. Berikut beberapa klasifikasi mengenai varietas padi lokal unggulan ini.

• Varietas IF16

Varietas padi IF16 dikenalkan oleh Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI). IF16 tidak lain adalah akronim dari Indonesia Farmer. Keunggulan varietas padi ini adalah lebih tahan terhadap hama penyakit wereng batang cokelat, pengerek batang padai dan blast. Varietas padi IF16 sangatlah cocok untuk ditanami di wilayah Jawa dan menghasilkan nasi yang pulen. Selain itu, keunggulan lainnya ialah padi ini memiliki umur yang pendek (genjah) yakni hanya sekitar 90 hari setelah panen atau 104 hari setelah sebar pada musim gadu. 

• Varietas IF18

Sementara itu, untuk IF18 merupakan varietas padi yang telah dikembangkan sebelumnya atau sebelum IF16. Akan tetapi untuk varietas IF18 ini lebih cocok untuk masyarakat di wilayah Sumatera. Nasi yang terbuat dari varietas IF18 ini dirasa lebih pera dan cocok untuk masakan-masakan tertentu dan menambah cita rasanya. Keunggulan dari varietas ini adalah tahan penyakit dan mudah disilangkan dengan varietas lainnya untuk menciptakan varietas baru.

Optimis masuk rekor dunia

Sebenarnya, varietas padi lokal asli Indonesia ini jika ditelaah lebih lanjut bisa menyaingi varietas padi unggulan dari negara lainnya. Contohnya saja bersaing dengan varietas padi asal Cina yakni Xiang Liangyou 900 misalnya yang menghasilkan 17,2 ton per hektarnya. Padahal, padi hibrida Indonesia mampu melampaui jumlah tersebut. 

Adanya tiga varietas padi lokal unggulan yakni IF16, IF17, dan IF18 memiliki potensi yang cukup besar. Untuk IF16 misalnya mampu menghasilkan potensi hingga 14 ton per hektarenya. Sedangkan untuk IF17 potensi per hektarenya mencapai 10 ton dan IF18 mencapai 9 ton per hektarenya. Apabila ketiganya digarap dengan maksimal oleh petani kita dan didukung dengan peran serta pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian dalam mengembangkan varietas padi unggulan tersebut, bukan tidak mungkin produksinya mampu mencapai 21,4 ton per hektare nantinya. Jelas, hal ini lebih besar jika dibandingkan dengan varietas padi di Cina.

Selain mampu menciptakan rekor dunia, diharapkan jika angka tersebut tercapai dapat meningkatkan produktivitas pangan nasional di masa mendatang.

Sumber : Kumparan