Blog •  07/12/2021

Agar Jagung tak lagi Impor

Presiden Joko Widodo bersama petani di Jeneponto melakukan penanaman jagung di areal seluas 1.000 hektare. Diharapkan kebutuhan jagung secara nasional dapat tercukupi.

Ada yang menarik saat Presiden Joko Widodo menanam jagung bersama para petani di Kampung Camba Jawa, Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan, Selasa, 23 November 2021. Siang itu Presiden Jokowi mendorong alat tanam jagung atau corn planter dan diikuti oleh para petani secara serentak. Uniknya, usai menanam benih jagung sepanjang kurang lebih 100 meter, Presiden Jokowi menaiki traktor yang telah terparkir di lokasi.

“Tadi kan kita melakukan penanaman dengan planter untuk khusus jagung tapi juga tadi saya mencoba untuk penanaman dengan traktor yang di belakangnya ada planter-nya,” ujar Presiden Jokowi.

Traktor berwarna hijau pun melaju perlahan di hamparan lahan. Bersama Menteri Pertanian, Presiden Jokowi berkeliling satu putaran lahan. Kepala Negara memandang, pemanfaatan alat mekanis pertanian seperti traktor dibutuhkan jika lahan garapan para petani sangat luas sehingga penanaman bisa lebih efektif.

“Saya kira dua-duanya baik, tetapi kalau dalam hamparan yang sangat luas memang yang paling cepat adalah memakai traktor, cepat sekali. Saya kira mekanisasi seperti ini juga perlu dikenalkan kepada seluruh petani agar penggunaan alat-alat semiberat seperti ini bisa juga dilakukan,” tandasnya.

Presiden Joko Widodo melakukan penanaman jagung di areal seluas 1.000 hektare. Itu dilakukan bersama dengan para petani lainnya. Presiden Jokowi berharap, dengan makin banyak petani yang menanam jagung, kebutuhan jagung secara nasional dapat tercukupi. Setiap hektare dari lahan pertanian tersebut diharapkan mampu menghasilkan jagung 6 sampai 7 ton dan Provinsi Sulawesi Selatan secara keseluruhan mampu memproduksi hingga 1,8 juta ton. “Kekurangan stok jagung secara nasional dapat segera kita tutup dan tidak usah impor lagi,” lanjutnya.

Terkait harga jagung, Presiden Jokowi menuturkan bahwa harga jagung saat ini di Kabupaten Jeneponto sangat baik dengan harga per kilogram sebesar Rp4.000,00. Namun, Kepala Negara mengingatkan agar harga jagung tersebut tidak sampai memberatkan para peternak ayam dalam membeli pakan ternak.

“Ini memang dua hal yang memang harus bisa seimbang, petani juga diuntungkan tetapi para peternak yang juga harus diuntungkan. Inilah yang baru kita cari keseimbangannya kalau produksi secara nasional itu tercukupi,” tambahnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Plt Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, dan Bupati Jeneponto Iksan Iskandar.

Perlu diketahui, awal 2021, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan ketersediaan komoditas pangan mencukupi kebutuhan nasional. Salah satunya jagung untuk pakan ternak terus digenjot produksinya sehingga pasokannya aman atau bahkan mencapai surplus untuk ekspor.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi, saat itu, mengatakan bahwa beberapa sentra produksi jagung sudah bisa mencapai target produktivitas 8 hingga 9 ton per hektare. Peningkatan produktivitas dapat menjamin tercukupinya kebutuhan jagung.

Kementan di bawah komando Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) memiliki program pengembangan kawasan tanaman pangan korporasi (ProPaktani) untuk peningkatan produksi dan ekspor agar sektor pertanian makin kuat sebagai penopang perekonomian nasional.

Berdasarkan laporan prognosa penghitungan Pusat Data dan Sistem Informasi (Pusdatin) Kementan, luas tanam jagung nasional Oktober 2019--September 2020 mencapai 5,5 juta hektare (ha). Luas panen jagung nasional Januari--Desember 2020 mencapai 5,16 juta ha.

Prognosa produksi jagung nasional dengan kadar air 15 persen pada Januari hingga Desember 2020 mencapai 24,95 juta ton pipil kering.

Data Pusdatin Kementan, menampilkan 10 provinsi di Indonesia sebagai produsen jagung tertinggi dengan kadar air 15 persen untuk Januari - Desember 2020. Peringkat kesatu hingga ketiga nasional tahun 2020 tidak bergeser dibandingkan peringkat tahun 2019. Pertama, Provinsi Jawa Timur, dengan luas panen 1,19 juta ha menghasilkan 5,37 juta ton jagung. Kedua, Provinsi Jawa Tengah dengan luas panen 614,3 ribu ha menghasilkan 3,18 juta ton jagung. Ketiga, Provinsi Lampung dengan luas panen 474,9 ribu ha menghasilkan 2,83 juta ton jagung.

Keempat, Provinsi Sumatra Utara dengan luas panen 350,6 ribu ha menghasilkan 1,83 juta ton. Kelima, Provinsi Sulawesi Selatan dengan luas panen 377,7 ribu menghasilkan 1,82 juta ton jagung. Keenam, Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan luas panen 283 ribu ha menghasilkan 1,66 juta ton jagung.

Ketujuh, Provinsi Jawa Barat dengan luas panen 206,7 ribu ha menghasilkan 1,34 juta ton jagung. Kedelapan, Provinsi Sulawesi Utara dengan luas panen 235,5 ribu ha menghasilkan 0,92 juta ton jagung. Kesembilan, Provinsi Gorontalo dengan luas panen 212,5 ribu ha menghasilkan 0,91 juta ton jagung. Terakhir kesepuluh, Provinsi Sumatra Selatan dengan luas panen 137 ribu ha menghasilkan jagung mencapai 0,80 juta ton.

Sementara itu pada2021 Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan produksi jagung bisa mencapai 22,5 juta ton. Produksi itu dihasilkan dari luas tanam 4,2 juta hektare (ha) dengan luas panen 4,1 juta ton dan produktivitas 5,4 ton per ha.

Daerah penghasil jagung di Indonesia juga belum bergeser banyak. Masih terdapat di beberapa provinsi seperti Lampung, Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Nusa Tenggara Barat.  Sekitar 60 persen produksi jagung ada di Pulau Jawa dan selebihnya di luar Jawa.

Produksi jagung terjadi sepanjang tahun. Tapi, puncak panen terjadi pada periode Februari dan Maret dengan produksi kurang lebih 30 persen dari total produksi. Januari--April itu produksi berkisar 45 persen.

Diperkiraan kebutuhan jagung untuk pakan pada 2021 mencapai 10,76 juta ton. Itu terdiri dari industri pakan unggas sebesar 7,04 juta ton serta peternak unggas mandiri 3,71 juta ton. Pada September lalu, Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar kegiatan "Panen Jagung Nusantara" dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional, sekaligus mengoptimalkan produksi jagung dalam negeri untuk kebutuhan bahan pakan ternak secara mandiri.

Panen jagung nasional berlangsung hingga akhir 2021. Diperkirakan luas panen September ini 299.059 hektare, Oktober 230.157 hektare, November 207.264 hektare, dan Desember seluas 197.265 hektare dengan produksi masing-masing 1,21 juta ton, 916.759 ton, 1 juta ton dan 881.787 ton.

Mentan Syahrul memperkirakan, produksi jagung nasional pada 2021 overstok 2,85 juta ton. Ia mengungkapkan, berdasarkan data prognosa Kementan dan BPS, luas panen jagung nasional Januari--Desember 2021 seluas 4,15 juta hektare, produksi bersihnya sebesar 15,79 juta ton dengan kadar air 14 persen. Sementara itu, kebutuhan jagung setahun untuk pakan, konsumsi dan industri pangan totalnya 14,37 juta ton sehingga dengan menambahkan stok akhir Desember 2020 (carry over) sebesar 1,43 juta ton, diperoleh stok jagung 2021 sebanyak 2,85 juta ton.

Sumber: Indonesia.go.id