Blog •  15/05/2020

Antisipasi Musim Kemarau, Kementan Dukung Poktan Bangun Embung

© DOK. Humas Kementerian Pertanian
© DOK. Humas Kementerian Pertanian

KOMPAS.com – Hasil prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, ke depannya tidak akan terjadi kemarau ekstrem (el nino). Hal tersebut sedikit melegakan kelangsungan produksi pangan. Meski begitu, perubahan iklim dalam sektor pertanian harus tetap diantisipasi. Sebab, dapat menyebabkan pergeseran musim dan perubahan pola curah hujan. “Terutama pada Agustus yang diprediksi menjadi puncak musim kemarau tahun ini," kata Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, Selasa (12/5/2020), seperti dalam keterangan tertulisnya. Senada dengan Syahrul, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy juga mengatakan hal serupa.

“Bila tidak disikapi dengan bijak, perubahan iklim akan berdampak pada kondisi ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, Kementan mengambil langkah-langkah antisipasi,” kata Sarwo. Langkah yang dimasud Sarwo adalah mendukung pembuatan embung pertanian oleh Kelompok Tani (Poktan) sebagai upaya menghadapi perubahan iklim. “Antisipasi yang bisa dilakukan adalah membuat embung. Pasalnya dengan embung pertanian, kebutuhan air di tingkat usaha tani dapat diatur,” kata Sarwo. Salah satu daerah yang telah membangun embung pertanian adalah Kecamatan Palipi dan Kecamatan Harian di Kabupaten Samosir.

Embung pertanian di Desa Hutan Dame, Kecamatan Palipi dibangun oleh Poktan Madurna. Berukuran 32 x 13 meter, embung tersebut bermanfaat untuk menjaga produktivitas tanaman pangan. Sementara itu, embung pertanian di Desa Siparmahan, Kecamatan Harian dibangun oleh Poktan Rap Hita dengan dimensi bangunan 26 x 19 meter. Embung pertanian tersebut dibangun untuk mempertahankan ketersediaan sumber air di tingkat usaha tani seperti komoditas tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan.

Ketua Poktan Rap Hita Jadingin Sihotang mengatakan, bantuan tersebut sangat bermanfaat bagi petani dan masyarakat sekitar. “Anggota poktan dan masyarakat bersama-sama membangun embung. Kami akan memelihara bantuan pemerintah ini sehingga air untuk usaha tani kami tetap ada,” kata Jadingin.

Sumber: KOMPAS