Blog •  16/12/2020

Apkasindo Sumbar Berharap Negara Tujuan Ekspor CPO 2021 Diperluas

© Ilustrasi - Bisnis
© Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, PADANG - Pasar ekspor crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah diharapkan dapat diperluas pada tahun 2021 mendatang. Bila itu terwujud, maka bisa menaikkan harga kelapa sawit.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumatra Barat Syahril mengatakan selama ini pasar ekspor CPO di Sumbar yang besar itu ke Cina dan baru-baru ini ke India, serta beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

Menurutnya bila negara tujuan ekspor diperluas, maka harga kelapa sawit di tingkat petani bisa naik. Sebab, semakin banyak yang menampung produksi kelapa sawit di Sumbar, maka harga akan semakin bagus.

"Kalau pasar hanya satu tempat, sulit untuk bisa mendapatkan harga yang bagus. Karena pasar terbatas. Nah di tahun 2021 nanti, semoga saja kran ekspor CPO bisa diperluas," katanya, ketika dihubungi Bisnis dari Padang, Senin (14/12/2020).

Menurutnya bergambar pada tahun 2020 ini, harga kelapa sawit sejak awal tahun jauh dari kata layak. Bahkan dari tingkat perkebunan rakyat harga kelapa sawit hanya Rp500 per kilogramnya.

Padahal kondisi di awal tahun itu, lagi masa panen kelapa sawit. Hal yang diimpikan oleh petani untuk bisa menikmati hasil panen di harga yang bagus, tidak terwujud.

"Jadi selama ini yang kita lihat, disaat harga lagi bagus, tapi produksi malah sedikit. Logikanya itu, jika banyak dikali sedikit hasilnya tetap sedikit dan begitu sebaliknya. Padahal yang diharapkan itu banyak dikali banyak maka hasilnya pun akan banyak," ucap dia.

Syahril menyebutkan bagaimana disaat produksi lagi banyak hargapun lagi bagus, yakni pasar harus diperluas. Artinya tidak terpatok dari satu harga saja, karena pasar ada yang lain.

Menurutnya peran perluasan pasar ini juga dibutuhkan dari pemerintah, dimana bisa menjalin kerjasama ke berbagai negara untuk menampung produksi CPO di Indonesia maupun di Sumbar.

"Kita kan negara produksi CPO terbesar di dunia. Jadi akan sangat bagus bila pasar ekspor bisa diperluas," ungkapnya.

Apkasindo pun menilai dengan adanya keinginan pemerintah menciptakan bahan bakar yang ramah lingkungan, seharusnya CPO menjadi kebutuhan utama, dimana perlu untuk ditingkatkannya produksi biodiesel.

Seperti negara Taiwan, jika komitmen mereka terealisasi untuk menciptakan ramah lingkungan pada tahun 2021 nanti, maka hal itu bakal menjadi salah satu pendorong meningkatnya ekspor CPO di Indonesia.

Akan tetapi, sejauh ini Taiwan sepertinya belum merealisasikan komitmen untuk bahan bakar ramah lingkungan, dan mungkin saja adanya dampak dari pandemi Covid-19.

Untuk itu, dari satu sisi keberadaan biodiesel itu juga dapat menunjang kebutuhan CPO, dan dampaknya perekonomian di sektor perkebunan kelapa sawit diperkirakan bakal membaik.

Sekarang biodiesel di Indonesia sudah ada. Tapi konsumsi biodiesel bisa dikatakan belum begitu besar dan masih banyak yang menggunakan. Hal ini dikarenakan harga biodiesel dengan solar cukup jauh berbeda, akibatnya solar yang lebih murah masih menjadi incaran.

"Jadi kalau harga antara biodiesel dengan solar itu dibuat beda tipis saja, yang mungkin di bawah Rp2.000, saya perkirakan banyak orang bakal tidak berpikir rugi bila membeli biodiesel," tegasnya.

Artinya, bila konsumsi biodiesel turut ditingkatkan, maka penjualan CPO di Indonesia pun akan membaik. Dengan demikian, persoalan harga kelapa sawit di tingkat petani pun bakal ikut membaik.

Tapi di satu sisi, panen kelapa sawit di Sumbar jelang akhir tahun ini bakal menurun, karena buah yang akan dipanen belum ada. Diperkirakan panen bisa dilakukan di bulan Februari-Maret 2020.

Penurunan panen bisa mencapai 50 persen dari momen biasanya. Misalnya dalam satu hektare bisa panen 2 ton kelapa sawit, sekarang hanya bisa panen 1 ton saja dan bahkan semaksimalnya tidak lebih dari 1,2 ton kelapa sawit.

Padahal harga kelapa sawit jelang akhir tahun 2020 ini lagi bagus, seperti untuk harga di tingkat perkebunan rakyat paling rendah Rp1.200 per kilogramnya, dan untuk harga di perusahaan plasma bisa di atas Rp2.000 per kilogramnya.

"Nah ini yang saya katakan tadi, disaat harga bagus, yang akan dipanen itu tidak. Semoga saja panen tahun 2021 mendatang, harga masih bagus, jadi banyak kali banyak bisa menghasilkan sebuah keuntungan," harapnya.

Syahril juga menilai pemerintah perlu ambil peran untuk kondisi harga kelapa sawit ini. Karena ada banyak hal yang bakal membuat petani kelapa sawit itu merasa kesulitan untuk hidup.

Contohnya soal harga pupuk, bagi perkebunan kelapa sawit pupuk adalah hal yang sangat dibutuhkan. Tapi harga pupuk kini bukanlah nilai yang terbilang murah.

Namun bila melihat dari nilai jual kelapa sawit yang anjlok, keuntungan mana lagi yang bisa nikmati oleh petani kelapa sawit. Sebab, hasil penjualan panennya itu bila dihitung-hitung dengan modal beli pupuk malah minus alias terhutang.

"Makanya kami di Apkasindo berharap bentuk harga kelapa sawit ini perlu ada di harga yang layak. Artinya, masih keuntungan yang diperoleh para petani, terutama untuk perkebunan rakyat," pinta Syahril.

Kalau merujuk pada harga yang ditetapkan oleh Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan harga kelapa sawit itu di bawah Rp2.000 per kilogramnya. Tapi bila pasar lagi banjir bahan yang datang, mau tidak mau harga-harga ditetapkan oleh pemerintah tidak bisa dipatuhi.

Sumber: Bisnis