Blog •  14/01/2020

Beberapa Tuntutan Pengembangan Budidaya Hortikultura di Indonesia

Budidaya tanaman hortikultura. Permintaan hasil budidaya hortikultura di Indonesia semakin hari semakin tinggi. Bahkan kegiatan menanam tanaman hortikultura alias tanaman kebun kini menjadi tren dan kian digemari. Bahkan, dilansir dari Republika.co.id besar nilai ekspor dari produk hasil tani budidaya hortikultura di tahun ini mencapai Rp 2.8 triliun. Produk-produk hortikultura tersebut terdiri dari produk segar dan olahan. 

Berdasarkan penuturan Prof. Dr. Sobir, selaku peneliti utama Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam rangka meminimalisir impor serta seiring kebutuhan masyarakat yang kian meningkat, pemerintah mulai memprioritaskan hortikutura. Bahkan, hortikultura disebut-sebut akan menjadi solusi pertanian masa depan. 

Berbicara tentang perkembangan budidaya hortikultura di negara kita, tentunya menyadarkan kita bahwa selalu ada tantangan yang akan dihadapi di setiap prosesnya. Salah satu contohnya adalah perubahan cara pandang dan gaya hidup masyarakat Indonesia terhadap pangan di masa depan. 

Karakter konsumen di masa depan adalah meningkatnya tuntutan akan nilai gizi, keamanan, cita rasa dan ketersediaan pangan dari komoditas horikultura. Bahkan peningkatan ini terjadi secara pesat.

Kondisi seperti ini bisa memicu terjadinya kompetisi antara produk hortikultura lokal dengan produk impor (yang seringkali lebih berkualitas bahkan lebih murah). Oleh karena itu, mau tidak mau kondisi ini juga akan mempengaruhi manajemen produksi tanaman. Selain itu, terdapat beberapa tuntutan dari konsumen hortikultura di masa depan, di antaranya:

1. Produk hortikultura harus terbukti aman, bebas dari pestisida, cemaran racun dan mikroba berbahaya yang berakibat buruk bagi tubuh. Maximum Reside Limit (MRL) atau aturan batas maksimum residu di masa depan akan semakin ketat, sehingga dapat mempengaruhi pengelolaan perlindungan tanaman. 

Diharapkan pula tidak terjadi lagi kasus keracunan sianiada dari singkong dan Pb dari kangkung, sehingga produk hortikultura harus benar-benar aman dari berbagai kandungan zat berbahaya seperti loham berat dan racun. Produk juga harus terbebas dari bahan pengawet dan pewarna. Produk dengan formalin tidak akan digunakan sama sekali. 

2. Produk hortikultura dituntut memiliki kandungan zat berkhasiat untuk kesehatan dan nilai gizi yang tinggi. Informasi mengenai kandungan fitokimia dalam produk harus tersampaikan secara jelas pada konsumen. Maka dari itu, pelakasanaan penelitian mengenai manfaat sayur dan buah harus difokuskan agar dapat dibuktikan secara ilmiah dan diketahui kandungan fitokimia apa yang terkandung dalam produk.

3. Tidak hanya rasa yang enak, produk hortikultura juga harus memiliki kualitas yang tinggi. Kualitas atau mutu bisa merupakan keistimewaan dari suatu produk atau kecocokan produk dengan tujuan dari produksi. Standar kualitas di sini bisa merupakan tampilan produk seperti kebebasan dari cacat, keutuhan, tingkat kematangan, kesegaran, kebersihan dan lain sebagainya.

4. Produksi produk hortikultura harus memperhatikan mutu lingkungan. Seiring dengan tekanan populasi terhadap sumber daya lahan yang semakin kuat, tuntutan kelestarian lingkungan pun akan semakin ketat. Oleh karena itu, para ilmuwan Indonesia perlu memikirkan cara untuk dapat memproduksi pangan yang memenuhi tuntutan masyarakat namun tetap menjaga kelestarian lingkungan, mencegah erosi, pencemaran air dan tanah dan lain sebagainya.

5. Kegiatan produksi produk hortikultura juga harus mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan para petani dan pekerja yang terlibat.

6. Adanya traceability atau kemampuan untuk mengidentifikasi posisi saat ini atau masa lalu dari suatu produk serta mengetahui sejarah distribusi produk yang ditempuh. Produksi hortikultura harus dapat dirunut mulai dari kebun hingga pasar dengan data-data yang transparan dan jujur.

Ketersediaan produk hortikultura harus tepat waktu. Selain beberapa poin yang telah disebutkan sebelumnya, pengadaan produk-produk hortikultura secara tepat juga merupakan faktor penting. Beberapa produk hortikultura tertentu, kontinyuitas dalam penyediaan menjadi faktor utama yang sangat penting.

Harga jual yang kompetitif bagi produk hasil hortikultura. Maka dari itu, pengembangan supply chain management (SCM) yang berorientasi pada nilai produk serta adil harus dikembangkan.

Berdasarkan tuntutan konsumen yang telah dipaparkan dalam beberapa poin di atas, para pelaku pengembangan produk hortikultura baik itu petani, pemilik lahan, investor maupun pekerja lainnya dituntut agar semakin cerdas dan selalu update akan informasi serta pengetahuan. 

Di zaman yang serba maju seperti saat ini, mulai bermunculan pula berbagai online platform berbasiskan pertanian yang memudahkan siapapun untuk ikut berpartisipasi dalam budidaya hortikultura. Salah satu yang Penulis ketahui adalah Tanjioy. 

Tanijoy merupakan platform investasi online yang membantu petani kecil dalam mendapatkan akses permodalan untuk budidaya produk sayur-sayuran (hortikultura) demi meningkatkan kualitas dan produktivitas budidaya mereka serta meningkatkan pendapatan petani menjadi lebih layak.

Melalui Tanijoy, bukan hanya kemudahan akses bagi para investor yang disediakan, namun juga bantuan pengelolaan lahan serta dana yang kamu investasikan juga turut dibantu. 

Petani yang bekerja akan diawasi oleh field manager yang kompeten sehingga kuantitas, kualitas dan keamanan produk dapat lebih terjaga dan terpantau. Selain itu, adanya traceability juga menjadi salah satu poin plus dari platform ini.

Kembali ke penjabarkan sebelumnya, daya saing produk hortikultura akan ditentukan oleh kualitas, kuantitas, kontinyuitas pasokan, keamanan, ketepatan delivery, kompetitif dalam harga, dan adanya traceability. 

Namun dengan munculnya online platform seperti Tanijoy, pemanfaatan teknologi juga dapat turut serta mempengaruhi meningkatkan daya saing global hortikultura Indonesia. 

Sumber: Kompasiana