Blog •  10/07/2020

Begini Cara Mengatasi Ulat Grayak yang Menyerang Tanaman Jagung Petani di Kabupaten Gowa

© Foto : Dok. Kementerian Pertanian
© Foto : Dok. Kementerian Pertanian

Trubus.id -- Baru-baru ini serangan ulat grayak jagung (UGJ) dilaporkan menyerang tanaman jagung di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Serangan ulat grayak ini terjadi di lahan jagung milik Kelompok Tani Mangurangi di Desa Manjapai, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa.

Perlu diketahui, ulat grayak merupakan salah satu hama yang menyerang tanaman jagung. Ulat ini tidak berbulu dan biasa disebut oleh petani sebagai ulat tentara karena menyerang dengan populasi tinggi. Siklus hidup ulat grayak dapat berlangsung dari 32 hingga 46 hari. Fase Telur selama 2-3 hari dengan jumlah telur dapat mencapai 1.046 telur.

Jagung sebagai komoditas utama bagi pakan nasional, saat ini memang mendapat tantangan berat semenjak kemunculan serangan UGJ sebagai hama baru di Indonesia. Serangannya yang masif dan penyebarannya yang cepat seringkali membuat panik petani jagung. Hal ini juga diungkapkan oleh petani di Kabupaten Gowa yang pertanamannya terserang UGJ.

Berdasarkan hasil verifikasi lapangan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) serta petugas lapang setempat diketahui ternyata UGJ menyerang tanaman jagung berusia 28 hari setelah tanam di lahan seluas 0,2 hektare dengan intensitas serangan 45 persen atau sedang.

“Di Poktan Mangurangi memang ada serangan UGJ. Setelah kami identifikasi ternyata yang terserang itu jagung yang penanaman susulan, terlambat tanam,” kata Uvan Nurwahidah, Kepala BPTPH Sulawesi Selatan, Rabu (8/7/20).

Uvan menyebutkan sebenarnya Poktan Mangurangi telah melakukan penyemprotan sebanyak 4 kali dengan menggunakan pestisida siklon, abenz, dan prevathon untuk mengendalikan serangan UGJ ini. Penyemprotan pestisida tersebut telah berhasil mematikan lebih dari 70 persen UGJ di lokasi pertanaman yang terserang.

“Kami menyiapkan bantuan pestisida, jika ternyata UGJ masih ada. Selain itu, kami juga menyediakan PGPR yang nantinya dapat diaplikasikan untuk memacu pertumbuhan tunas jagung yang sebelumnya terserang,” ucapnya.

“Peran aktif petugas lapang untuk memonitor tanaman milik petani sangat penting sehingga jika ada serangan hama yang berbahaya, petugas beserta petani dapat segera melakukan pengendalian,” tambahnya.

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Edy Purnawan menjelaskan, bahwa serangan ulat grayak ini ada beberapa indikasi nya. Edy menambahkan, jika ulat grayak menyerang daun tidak akan mematikan tanaman jagung tersebut, dalam dua minggu kedepan tanaman tersebut bisa recovery.

“Namun jika ulat grayak menyerang titik tumbuh, maka ancaman gagal panen dapat terjadi,” tuturnya.

Meski begitu, dirinya meminta para petani jagung jangan lantas panik jika serangan ulat grayak jagung menyerang. Petani jagung diminta Edy supaya lebih awas saat tanam jagung hingga hari ke 37. Setelah umur segitu, ulat grayak tidak lagi tertarik.

“Hingga umur tanaman ke-37 hari itulah fase dimana tanaman menjadi incaran ulat grayak,” terangnya.

Namun tiap daerah menurut Edy mempunyai cara masing-masing untuk mengantisipasinya, selain manual dan pestisida, ada juga yang menggunakan metode pengasapan. Jadi pertanaman jagung dari awal tanam hingga hari ke-37 harus dilakukan pengamatan ekstra atau dikawal ketat, karena itu jadi sasaran ulat grayak jagung.

“Kalau sampai ditemukan larvanya segera dimatikan atau dibersihkan bisa manual atau pun pestisida,” ungkap Edy.

Terpisah Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan wabah hama ulat grayak telah ditindaklanjuti dengan pengiriman tim ke lapangan. Jika ada ulat grayak, Kementan menurunkan tim untuk menyelesaikan hama tersebut dan Kementan sudah memiliki sistem daring untuk pelaporan hama, baik dari petugas maupun masyarakat.

“Sebagai salah satu garda terdepan kami akan selalu siap untuk menjaga ketahan pangan kita,” jelasnya.

Suwandi menjelaskan gerak tanggap jajaran Kementan dari pusat sampai daerah bersama dengan masyarakat untuk mengatasi gangguan serangan hama UGJ.

“Gangguan termasuk didalamnya serangan UGJ yang dapat mengancam produksi jagung nasional,” tutup Suwandi. 

Sumber: Trubus