Blog •  19/11/2020

Burung Emprit Jadi Ancaman Padi Petani

© Iqbal Syahroni- radarkediri.id
© Iqbal Syahroni- radarkediri.id

NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Para petani padi di Nganjuk tidak hanya menghadapi ancaman harga gabah yang turun akhir tahun ini. Melainkan mereka juga dibuat kewalahan akibat serangan burung emprit yang merusak tanaman padinya.

Berbeda dengan hama lainnya, burung emprit atau burung pipit menyerang tanaman padi saat hendak dipanen atau bulir padi sudah berisi. “Susah sekali mengusir burung,” keluh Agus Dianto, 46, petani di Desa Ngrengket, Sukomoro.

Agus mengatakan, untuk mengurangi serangan burung pipit, dia sudah memasang plastik panjang di beberapa titik. Tujuannya, plastik yang tertiup angin akan bergerak dan membuat burung takut.  

Tidak hanya itu, dia juga memasang kincir angin di sawah. Tetapi, alat itu tidak cukup untuk mengusir pemakan padi ini. Burung tetap datang secara berkelompok dan merusak tanamannya.

Agus pun masih harus berkeliling sawah untuk mengusir burung agar tanaman padinya yang seminggu lagi dipanen bisa aman. “Kalau tidak nanti dimakan burung,” lanjutnya.

Selain menyerang sawahnya, menurut Agus banyak petani lain di Ngrengket yang tanaman padinya diserang burung. Jika hal tersebut dibiarkan, produktivitas panenan padi petani akhir tahun ini dipastikan akan turun drastis.

Agar hal serupa tak menimpa tanamannya, Agus mengaku rela berjaga mulai pagi hingga sore. “Kalau satu-dua burung sih tidak akan parah. Tapi kalau kawanan banyak itu yang bikin lebih susah,” tuturnya.

Pantauan koran ini kemarin, di sawah Agus memang ada puluhan hingga ratusan ekor burung emprit yang beterbangan dari satu lahan ke lahan padi lainnya di sana. Saat diusir di satu petak, mereka mendatangi petak lain untuk kembali lagi ke petak sebelumnya saat petani lengah. Petani pun terpaksa kucing-kucingan dengan burung.

Untuk diketahui, hama burung bukan satu-satunya masalah yang dihadapi petani. Sebelumnya, para petani mengeluhkan produktivitas tanaman mereka yang turun akibat pemupukan yang tak maksimal.

Terkait hal ini, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Nganjuk Judy Ernanto mengungkapkan, pihaknya akan melakukan kajian terhadap penurunan produktivitas padi. “Ada macam-macam kalau faktornya, benar. Namun harus ditelaah terlebih dahulu yang menjadi masalah seperti apa di daerah tersebut,” imbuhnya.

Untuk diketahui, beberapa petanidi Desa Ngumpul, Kecamatan Bagor sebelumnya mengeluhkan hasil panen di akhir tahun ini yang menurun. Seperti Bunarko, 54, warga asal Desa Selorejo, Bagor yang menyebut panenannya kurang maksimal karena pemupukan di awal musim tanam minim. “Kalau air cukup. Semua mengeluhkan pemupukan,” tegasnya.

Sumber: Radar Kediri