Blog •  12/07/2021

CDC Bulog Hadir untuk Stabilisasi Harga Jagung di Bima dan Dompu

© Suara NTB/Jun
© Suara NTB/Jun

Bima (Suara NTB) – Pembangunan pabrik Corn Drying Center (CDC) atau pusat pengeringan jagung di Desa Nusajaya Kecamatan Manggelewa, terus berjalan. Hingga awal Juli kemarin progresnya sudah 50 persen, meliputi bangunan pagar, rumah dinas, tempat ibadah dan sarana pendukung lain. Saat ini tinggal menunggu kedatangan alat pengering dan tiga unit tempat penyimpanan berkapasitas 9.000 ton.

Pimpinan Perum Bulog Cabang Bima, Sawaludin Susanto, SH., kepada Suara NTB di kantornya beberapa waktu lalu menyampaikan, Kabupaten/Kota Bima dan Dompu di Pulau Sumbawa, merupakan daerah sentra produksi jagung nasional.

Karenanya untuk mendukung proses hilirisasi komoditas unggulan tersebut, pemerintah pusat melalui Bulog penting menghadirkan CDC. “Progresnya sudah 50 persen sampai dengan awal juli. Target kita, alat-alat permesinan datang di Bulan Oktober,” ungkapnya.

Hadirnya CDC Bulog, bukan untuk menyaingi beberapa perusahaan swasta yang selama ini menyerap jagung petani, tetapi bertujuan memastikan harga pembelian mereka tetap stabil, minimal pada level Harga Pokok Penjualan (HPP).

Jika nilai pembelian swasta di bawah HPP, ia meyakinkan bahwa petani akan beralih ke Bulog. Pasalnya, mereka komitmen mengawal harga yang sudah ditetapkan pemerintah tersebut. “Kalau harga jatuh hadirlah Bulog, jadi swasta ini ada kiblat sehingga mau tidak mau harga pembelian mereka harus stabil,” jelasnya.

Dikatakan Sawaludin Susanto, silo atau tempat penyimpanan yang akan datang tiga unit dengan kapasitas total 9.000 ton. Sementara untuk alat pengering kapasitas per harinya 150 ton jagung. Jika Kadar Air (KA) jagung 18 dibutuhkan waktu sekitar 1-2 jam untuk menjadi KA 15-16. Karenanya, dengan alat yang dimiliki itu Bulog tidak takut mengambil jagung petani dengan KA 20.

Targetnya, pabrik tersebut rampung terbangun tahun ini, sehingga pada musim panen mendatang mereka sudah bisa langsung menyerap jagung petani di Bima dan Dompu. “Panen tahun depan di Maret atau April itu kita bisa lakukan penyerapan,” pungkasnya.

Sumber: Suara NTB