Blog •  13/01/2020

Cara Sederhana Distan Lampura Mengatasi Hama Ulat Grayak

KOTABUMI (Lampost.co) -- Serangan hama ulat grayak telah merusak ribuan hektar lahan jagung yang tersebar di 247 desa/kelurahan di 23 kecamatan se-Lampung Utara. Hingga saat ini belum ada pestisida yang efektif dalam menanggulangi serangan hama tersebut.

Kabid Penyuluh Dinas Pertanian Lampura Maria Juwita mengatakan serangan hama ulat grayak pada tanaman jagung menyerang hampir di semua wilayah desa di 23 kecamatan yang memiliki potensi jagung. Walaupun, estimasi angka luas areal lahan yang terserang belum dihitung petugas penyuluh lapangan di wilayah.

"Karena luasnya tingkat serangan hama, petani  sudah banyak yang menghabiskan sumber dana untuk beli pestisida hanya saja, langkah ini kurang efektif untuk menanggulangi serangan, sebab, dari laporan petugas tidak semua ulat grayak mati karena semprotan racun pestisida," ujarnya, Sabtu, 11 Januari 2020.

Mensikapi hal ini, pihaknya melalui petugas pengamat organisme penggangu tanaman (POPT) kabupaten, membagikan tips sederhana untuk menekan serangan hama ulat grayak dengan menaburkan tanah di titik tumbuh tanaman jagung yang terletak pada ujung tanaman atau tempat tumbuhnya daun muda.

"Penaburan tanah pada titik tumbuh tanaman jagung di tiap batang tanaman telah diterapkan petani di India saat serangan hama ulat grayak menyerang lahan jagung di negara tersebut pada 2018 lalu dan hasilnya, tanaman jagung tetap tumbuh, walaupun ulat grayak telah memakan sekitar 40 persen daun pada tanaman di luar areal yang tidak terlindungi tanah, asal titik tumbuhnya tidak di makan ulat, tanaman itu tidak akan mati," kata dia.

Menurutnya langkah tersebut adalah tindakan preventif paling murah yang dapat diterapkan petani jagung dan prinsip penerapannya sederhana, yakni melindungi titik tumbuh tanaman.

Ulat sebelum berubah kepompong memiliki siklus hidup pendek sekitar 26-30 hari, sedangkan usia panen jagung sekitar 120-130 hari. Dengan menutup titik tumbuh jagung di pucuk daun atas menggunakan tanah, maka titik tersebut tidak di makan oleh ulat grayak, sehingga jagung tetap tumbuh sampai masuk masa panen.

"Serangan hama akan terhenti saat ulat telah bermetamorfosis menjadi kepompong sebelum berubah menjadi kupu-kupu," tambahnya.

Di tempat yang sama, Kasi Metode dan Informasi Penyuluh Pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Utara, I Made Wirata, mengatakan langkah paling efektif penanggulangan serangan adalah melakukan deteksi dini dengan memusnakan telur sebelum berubah menjadi ulat grayak dan ulat menyebar ke tanaman yang lain.

Penaburan tanah merupakan langkah preventif manual untuk melindungi titik tumbuh agar tidak dimakan ulat, tapi upaya pembasmian hama tersebut mesti tetap dilakukan sebab, walaupun tanaman tetap tumbuh tapi tanaman tersebut tidak akan tumbuh normal dan panen yang dihasilkan tidak akan optimal seperti yang diharapkan. 

"Sebagai catatan, di musim penghujan, taburan tanah yang menutupi di titik tumbuh tanaman pada setiap batang tanaman yang terserang mesti sering dilihat, sebab dimungkinkan hanyut tersapu air dan petani harus tetap melakukan upaya penanggulangan hama penyakit tersebut," kata dia menambahkan.

Sumber: Lampost