Blog •  06/07/2021

Cuaca Buruk, Petani Padi Serdang Bedagai Waspadai Wereng Batang Cokelat

MEDAN, KabarMedan.com | Cuaca buruk seperti yang terjadi saat ini memicu berkembangnya hama wereng batang coklat (WBC) pada tanaman padi. Tercatat ribuan hektar pertanaman padi di sejumlah kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai terpantau adanya populasi WBC. Namun demikian, belum ada laporan serangan dan saat ini sedang dilakukan pengendalian.

Kepala UPTD Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Utara, Marino menjelaskan, sampai saat ini belum ada serangan hama WBC di Serdang Bedagai. Populasi WBC sudah mulai tinggi terutama kecamatan Teluk Mengkudu, Sei Rampah, Perbaungan, Tebing Syahbandar, Bandar Kalifah, Dolok Masihul dan Serba Jadi.

“Belum ada serangan. Tetapi populasi sudah milai tinggi,” ujarnya ketika dikonfirmnasi melalui aplikasi percakapan WhatsApp pada Senin (5/7/2021) siang.

Dijelaskannya, umur tanaman padi di tujuh kecamatan itu, saat ini masih antara 25 hingga 60 hari setelah tanam. Petugasnya di lapangan terus melakukan pemantauan. Hingga saat ini, terlihat ada populasi rata-rata 5 – 10 ekor WBC pada tiap rumpunnya. Pihaknya sudah turun membantu petani untuk melakukan pengendalian dengan pestisida.

“Rata-rata umur pertanaman antara 25 s.d 60 HST, populasi WBC rata-rata 5-10 ekor/rumpun. Kemarin kita sudah membantu pestisida untuk mengendalikan WBC tersebut. Untuk sementara luas yang harus diwaspadai seluas 1.228 hektare dan kami hari ini terus mengajak petani untuk melakukan pengendalian WBC,” katanya.

Marino menambahkan, cuaca saat ini sangat mendukung perkembangan WBC. Hama tersebut menjadi ancaman bagi petani khususnya ketika tanaman padinya berusia berusia 30-45 hari setelah tanam (HST). Jika populasi meningkat hingga 10 ekor per rumpun, maka pihaknya wajib langsung mengajak petani untuk melakukan pengendalian.

Deli Serdang, Serdang Bedagai, Asahan, Langkat kata dia, merupakan endemis WBC karena setiap musim tanam daerah itu selalu ada populasinya dan setiap musim tanam terus dimonitor. Jika serangan WBC tidak langsung dikendalikan, resikonya tanaman akan ‘terbakar’. Daun-daunnya akan memerah karena sari-sarinya sudah diisap oleh WBC. Resiko paling parah adalah gagal panen atau puso.

“WBC itu yang perlu diwaspadai adalah G1 atau generasi pertama, karena begitu bertelur, dia berkembang biak di situ, sekali bisa puluhan hingga ratusan ekor,” katanya.

Di lapangan, pihaknya sudah sudah ada petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan-pengamat hama dan penyakit (PPOPT-PHP) di setiap kecamatan yang selalu melakukan pengamatan dan pengendalian seandainya ada serangan. Setiap tahun, pihaknya selalu mendapatkan bahan dari Kementrian Pertanian RI untuk mengendalikan WBC yang akan digunakan secara bersama-sama dengan petani.

Namun, penggunaan bahan pestisida tersebut adalah opsi terakhir. Pihaknya tidak mau menggunakan sistem ‘nonggol, babat’, tetapi harus melihat dulu apakah masih ada musuh alaminya masih ada di alam. Serangan WBC ini harus diwaspadai karena menyerang di bagian batang atau pelepah. Di batang atau pelepah daun lah WBC meletakkan telurnya melalui organ ovipositornya.

Dalam 7 hari, katanya, telur bisa menetas dan langsung menyebar dengan cepat. Serangan parah WBC belum pernah terjadi di Sumut. WBC menyerang dengan skala yang sangat parah terjadi di tahun 1980-an di seluruh Indonesia.

Menurutnya, petani harus mewaspadai dan mengantisipasi merebaknya WBC dengan beberapa hal. Mulai dari penggunaan varietas yang berganti-ganti, penggunaan pupuk dan pestisida sesuai aturan untuk menghindari kebal.

“Jadi kami rekomendasikan itu, pengolahan tanah, sanitasi, penggunaan varietas yang toleran, kemidian tanam serentak di satu hamparan dan pengaplikasian pestisida yang tepat. Faktor kelembaban juga bisa berpengaruh terhadap perkembangbiakannya,” katanya. 

Sumber: KabarMedan