Blog •  18/02/2020

Distan, BPTP dan Prisma Bahas Roadmap Pengembangan Jagung di NTT

POS-KUPANG.COM|KUPANG -- Dinas Pertanian (Distan) dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT dan Prisma membahas roadmap Pengembangan Jagung di NTT. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh dinas pertanian kabupaten/kota di Hotel Swiss-Belinn-Kristal, Kupang, Jumat (14/2/2020).

Ketika membuka kegiatan ini Kadistan NTT, Ir. Yohanes Oktovianus, M.M, mengatakan, Pemprov NTT memberi perhatian khusus pada pengembangan jagung di daerah ini. Karena menjadi perhatian khusus maka butuh kerja yang lebih ekstra dari semua pihak.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat kata Kadis Yohanes memandang penting untuk mengembangkan jagung di NTT karena cocok dengan kondisi alam dan kultur masyarakat. Jika demikian maka program ini wajib sukses dan dapat memberi nilai tambah bagi masyarakat.

Dalam roadmap hasil garapan bersama Distan, BPTP dan Prisma yang diperoleh Pos Kupang, Senin (17/2/2020), menyebutkan bahwa daerah ini merupakan satu di antara penghasil jagung terbesar di Indonesia. Meski demikian, tingkat produktivitas jagung di provinsi ini masih tergolong rendah dibanding provinsi lain.

Karena itu terus dilakukan berbagai upaya untuk menggenjot produktivitas. Selain punya nilai ekonomis yang tinggi jagung punya nilai strategis tersendiri bagi masyarakat di daerah ini. Visi besar pengembangan jagung di NTT, yaitu meningkatnya produksi jagung menjadi 1,85 juta ton pada tahun 2023. Jumlah ini untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lokal dan pasokan kebutuhan bahan baku pakan.

Dalam roadmap itu juga disebutkan berbagai kendala. Pertama, aspek pembenihan yang meliputi ketersediaan dan aksebilitas benih unggul (OPV dan hibrida) yang belum memenuhi kebutuhan program maupun pasar bebas. Juga pengawasan produksi dan distribusi benih belum dilakukan secara optimal selain belum berkembangnya pasar benih.

Kedua, aspek adopsi inovasi dan peningkatan produksi. Masalah utama yang dihadapi adalah rendahnya produksi dan produktivitas jagung NTT, terbatasnya sarana dan prasarana produksi di tingkat petani, minimnya kualitas dan kapasitas pendamping lapangan.

Ketiga, aspek penanganan dan pemasaran hasil jagung yang belum maksimal karena rendahnya kapasitas teknis petani dalam penanganan hasil panen dan petani yang belum berorientasi bisnis.

Peneliti dari BPTP NTT, Dr. Tony Basuki mengatakan, pendekatan yang dilakukan pemerintah provinsi adalah Gerakan Masyarakat Agribisnis Jagung (Gema Jagung). Aplikasinya, yakni program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS). Program ini diharapkan dapat membentuk sistem supply demand jagung di NTT.

Melalui pendekatan Gema Jagung di NTT kata dia, dapat memenuhi kebutuhan bahan baku industri pakan serta memastikan ketersediaan swasembada pangan di NTT. Ada beberapa program di tingkat kabupaten seperti pengembangan Revolusi Pertanian Malaka (RPM) dan Flores Timur.

Program revolusi pertanian di dua kabupaten ini fokus pada pengembangan jagung untuk pemenuhan pakan dan konsumsi keluarga.

Sementara secara nasional Tony mengatakan, di lingkup Kementerian Pertanian RI saat ini sedang dilakukan juga kegiatan upaya khusus (Upsus) jagung dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan petani serta program perluasan areal tanam baru (PATB) di semua daerah termasuk NTT, untuk dijadikan lahan baru jagung.

Sumber: POS-KUPANG