Blog •  10/03/2021

Genjot Produksi Jagung, Sumbar Buat Regulasi Pemanfaatan Lahan Tidur

© Ilustrasi - Antara
© Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, PADANG - Produksi jagung di Provinsi Sumatra Barat yang hanya 1 juta ton per tahun dinilai masih belum bisa mencukupi kebutuhan jagung di Sumbar sebesar 1,2 juta ton. Untuk mendorong produktivitas jagung itu, Pemprov Sumbar berkeinginan untuk memanfaatkan lahan tidur. Namun untuk mewujudkan hal itu, Gubernur Sumbar Mahyeldi berpendapat perlu sebuah regulasi untuk hal tersebut. "Solusi untuk memenuhi kebutuhan jagung di Sumbar itu adalah pemanfaatan lahan tidur. Tapi perlu regulasinya, biar jelas. Makanya dari sekarang kita persiapkan draft Perda atau Pergub untuk pemanfaatan lahan tidur itu," katanya, Selasa (9/3/2021). Mahyeldi melihat salah satu usaha yang menjanjikan saat ini bagi Sumbar adalah di bidang pangan. Selain mendorong pemanfaatan lahan, pemerintah juga akan membantu pengolahan hingga pemasaran melalui dinas terkait. "Kebutuhan jagung di Sumbar tinggi, bisa-bisa 600 ton per hari. Sementara produksi kita per tahunnya saja masih kecil. Makanya pemanfaatan lahan tidur ini sangat perlu," jelasnya. Lahan tidur yang di wilayah Sumbar disebutnya cukup banyak dan tersebar, dan hampir di seluruh kabupaten kota. Dengan demikian, peluang Sumbar untuk menggenjot produksi jagung bisa terwujud dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur tersebut. "Jadi tolong disiapkan draft Pergub atau Perda untuk mengolah lahan lahan tidur yang ada di Sumbar. Lahan tidur banyak, tenaga kerja kita juga banyak. Jadi melalui regulasi itu dapat mengatur tanah-tanah yang tidak digarap," tegasnya. Untuk Pemprov Sumbar mendorong pemilik lahan untuk bergerak memanfaatkan lahan tidur tersebut. Sedangkan terkait bibit, Mahyeldi menegaskan akan dibantu oleh pemerintah. Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar Syafrizal mengatakan untuk produksi jagung di Sumbar memang belum begitu besar. Seperti terlihat pada tahun 2020 lalu produksi jagung ada sebanyak 935.716 ton atau masih kurang dari target produksi yang mencapai 995.201 ton, dan artinya 59.465 ton produksi jagung tidak bisa dicapai sepanjang tahun 2020. Melihat realisasi dari target produksi yang hanya 94,02 persen, maka untuk tahun 2021 target produksi jagung di Sumbar tidak jauh berbeda dengan tahun 2020. "Produksi kita masih belum begitu banyak. Bicara kebutuhan, di Sumbar ini kebutuhan jagungnya 1,2 juta ton. Sementara produksi kita baru 1 juta ton, dan artinya minus 200.000 ton, yang kurang itu kita pasok dari Lampung," sebut pria yang akrab disapa Jejeng ini. Diakuinya bahwa selama ini produksi jagung di Sumbar ada yang tak sampai 1 juta ton per tahunnya. Kendati kebutuhan jagung di Sumbar tidak mencukupi dari produksi yang ada, namun dari Pemprov Sumbar akan lebih serius untuk menggerakan pengelolaan lahan tidur pada tahun 2021 ini. "Solusi untuk menggenjot produksi jagung lebih besar. Perlu untuk menggerakan masyarakat untuk mengelola lahan tidur untuk dijadikan lahan perkebunan jagung," sebutnya. Menurutnya tanaman jagung termasuk tanaman yang tidak begitu sulit untuk dilakukan perawatannya. Artinya selagi ada tanah, maka biji-biji jagung yang jadi bibit itu akan tumbuh. Untuk bertanam jagung pun tidaklah terlalu sulit, sehingga ada harapan sebenarnya untuk menambah produksi jagung di Sumbar di masa mendatang. Hanya saja, ada juga petani yang masih tidak memahami potensi bertanam jagung tersebut. Hal ini dikarenakan petani di Sumbar masih menilai bertanam padi lebih menjanjikan, sementara jagung belum begitu banyak petani yang paham soal penghasilannya. "Petani ini hitung-hitungan ekonomi sangat kuat. Mereka mengkaji cara perawatannya, biaya yang akan dikeluarkan, hingga biaya panen, serta harga jual. Nah di Sumbar, belum semua petani memahami ini," ujar dia. Untuk itu, dengan adanya regulasi pemanfaatan lahan tidur nantinya, pemerintah berharap produktivitas jagung di tahun 2021 bisa lebih banyak dan dapat memenuhi kebutuhan jagung di Sumbar yang mencapai 1,2 juta ton per tahunnya. Di Sumbar, petani jagung tersebar di Kabupaten Pasaman Barat, Pasaman, Dharmasraya, Pesisir Selatan, Sijunjung, dan sedikit di Kabupaten Solok Selatan. Jejeng menyatakan dari yang di amatinya, ada 200 ribu hektare lahan tidur di Sumbar yang masih potensi untuk dikelola. Di Padang Pariaman misalnya, ada lahan perkebunan kelapa yang layak untuk ditanami jagung. Begitu juga soal lahan sawah tadah hujan, daripada turun ke sawah hanya menunggu hujan turun, maka pengelolaan lahan sangat tidak produktif. Untuk lahan seperti itu, sebaiknya bisa diarahkan ditanami jagung. Dia optimis, bila lahan tidur di Sumbar yang kini mencapai 200 ribu hektare itu dikelola khususnya untuk tanaman jagung, Sumbar tidak bakalan lagi kekurangan kebutuhan jagung, seperti yang dialami selama ini. Menurutnya bila 200 ribu hektare lahan tidur itu memproduksi jagung, jangankan untuk memproduksi 1,2 juta ton per tahun, produksi jagung di Sumbar bisa mencapai 2 juta ton lebih. "Itu kalau benar-benar lahan 200 ribu hektare itu dikelola, dan kalau itu benar terwujud. Sumbar bakal surplus jagung," sebutnya. 

Sumber: Bisnis