Blog •  05/05/2020

Hama Tikus Mengganas, Petani Jagung di Dairi Gagal Panen

TRIBUN-MEDAN.com - Serangan hama tikus merusak tanaman jagung di Kabupaten Dairi.

Tak hanya menggerogoti buah jagung yang akan panen. Buah yang masih kecil, batang, dan bahkan bibit yang baru beberapa minggu ditanami pun tak luput dari rongrongan hewan pengerat ini.

Hama tikus mengganas di Kecamatan Lae Parira, Kecamatan Berampu, Kecamatan Sidikalang, Kecamatan Sumbul, dan Kecamatan Siempat Nempu.

Salah satu petani jagung di Desa Sumbul, Kecamatan Lae Parira, Estina br Tampubolon mengungkapkan, Maret dan April lalu serharusnya menjadi masa panen bagi para petani jagung di desanya.

Namun apa daya. Tinggal beberapa hari lagi akan panen, sebagian besar jagung di ladangnya telah botak lantaran habis digerogoti tikus.

Gagal panen tak hanya terjadi pada dirinya, melainkan juga terhadap banyak petani jagung lainnya di Kecamatan Lae Parira.

"Rugi besar, pastilah. Sebelumnya memang sudah pernah terjadi serangan hama tikus, tetapi tidak seganas sekarang ini. Kali inilah yang paling dahsyat. Populasi tikus meningkat drastis," ujar Estina, Rabu (1/5/2019).

Estina mengaku, para petani setempat di desanya sempat mendapat bantuan racun tikus beserta penyuluhan mengenai metode pemakaiannya dari petugas penyuluh Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Dairi. Namun, agaknya tidak begitu berpengaruh mengurangi jumlah tikus.

"Enggak ada guna pun kayaknya racun yang dibagi itu. Malah makin gemuk-gemuk tikusnya kutengok. Jumlah racun yang dibagikan pun sedikit. Tiga bungkus racun untuk dua petani," tutur Estina.

Petani jagung lainnya, Redisma br Nababan mengatakan, akibat ganasnya hama tikus saat ini, ada beberapa petani di desanya yang enggan menanam jagung ataupun menyemaikan padi sawah.

"Takut gagal panen. Bibit jagung yang baru ditanam saja dimakan tikus," kata Redisma.

Upaya pengendalian yang dilakukan petugas Distanak Dairi, menurutnya, tidak merata lantaran hanya berkonsentrasi pada satu titik pada radius wilayah yang ditentukan petugas, sehingga kurang berdampak.

Baik Estina, maupun Redisma, mengaku sudah tak tahu lagi cara untuk memberangus hama tikus yang menyerang tanaman jagung.

Mereka berharap, pemerintah berkenan membantu mencarikan solusi menekan populasi hama tikus yang tengah menggila ini.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Distanak Dairi, Resmina Siska Tampubolon mengakui banyak menerima laporan perihal banyaknya petani jagung di Dairi mengalami puso pada musim panen tahun ini.

Ia berujar, pihaknya tengah menyusun rencana untuk langkah pengendalian hama tikus ini.

"Saya tidak bisa jelaskan lebih jauh sekarang. Takut salah 'ngomong'. Datanya di kantor soalnya," ujarnya.

Resmina mengatakan, pihaknya pernah menggalakkan gerakan pembasmian hama tikus ini menggunakan tiran dan alpostran, dengan menyemprot langsung pada lubang-lubang sarang tikus.

Data tahun 2018, luas lahan pertanian jagung di Kabupaten Dairi berjumlah 47.911,30 hektare. Sementara, lahan padi sawah dan padi gogo berluas 34.956 hektare.

Sumber: TRIBUN-MEDAN