Blog •  09/06/2021

Harga Jagung Tinggi, Ini Efeknya ke Industri Perunggasan

© shutterstock
© shutterstock

Jakarta - Harga jagung belakangan ini mengalami kenaikan. Hal ini berimbas pada peternak unggas. Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Achmad Dawami menjelaskan harga pakan yang naik saat ini berimbas pada meningkatnya harga pokok produksi (HPP).

Hal itu bisa menimbulkan kerugian bagi peternak jika diikuti oleh daya beli masyarakat yang menurun.

"Nah, masalahnya kalau harga ayam tidak naik, bahkan turun karena daya belinya melemah, maka peternak akan mengalami kerugian, itu jelas itu. Nah tapi kalau harganya bisa naik, melebihi dari harga produksi peternak akan tetap mendapatkan keuntungan," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Mengutip data BKP Kementerian Pertanian harga jagung terus mengalami kenaikan. Pada Januari 2021 harga jagung dengan kadar air 15% tercatat Rp 4.470 per kg. Harga jagung terus naik selama lima bulan terakhir hingga menyentuh sekitar Rp 6.200 per kg pada Mei 2021.

Angka ini berada jauh di atas harga acuan pembelian dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020 sebesar Rp 3.150 per kg. Achmad mengusulkan pada situasi saat ini, Kementerian Perdagangan (Kemendag) bisa menaikkan harga acuan pembelian ayam ras di petani dari yang Rp 19-21 ribu menjadi Rp 21-23 ribu.

"Jadi kalau mau bijaksana, harga acuan Kemendag ini harusnya dirubah pada situasi saat ini. Nah itu mungkin naik Rp 1 ribu atau Rp 2 ribu, dari Rp 19-21 ribu jadi Rp 22 ribu atau Rp 21-23 ribu," ujarnya.

"Tapi rekomendasi Kemendag sih rekomendasi saja, tidak bisa dipaksakan. Kalau memang ayam tidak bisa laku, ya harganya di bawah itu. Buktinya sekarang ini, terutama di Jawa Tengah, itu harganya di bawah Kemendag, jauh bisa 15-20%. Jadi Kemendag juga gak bisa apa-apa, karena itu kekuatan supply dan demand," imbuhnya.

Lebih lanjut Achmad menyarankan agar Kemendag berbicara dengan kementerian lain, terutama Kemenko Bidang Perekonomian, terkait penyediaan bahan baku ternak yang berkelanjutan dan harganya terjangkau atau bersaing.

"Kedua, kalau ini nggak bisa, Kemendag harus segera mengevaluasi harga acuan, meskipun ini bukan jaminan, jaminan laku. Tapi harga acuan itu motivasi dari para peternak itu akan ada gitu, Ketiga, Kemendag juga harus berpikir tentang panjangnya distribusi penjualan, yang selama ini terlalu panjang sampai konsumen apa gimana, dipersingkat," ujarnya.

Efek Kenaikan Harga Jagung ke Industri Perunggasan

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo menjelaskan kondisi harga jagung saat ini. Harga jagung saat ini sudah turun dari level Rp 6.000-an ke Rp 5.355 untuk di wilayah Jabodetabek saja. Namun menurutnya harga tersebut masih tinggi, terutama dari harga acuan Kemendag, yaitu Rp 3.150 per kg.

"Nah, kalau bicara jagung itu sih idealnya kalau harga jagung sekitar Rp 4.500-Rp 4.000. Itu kita bisa pake formula pakan itu, sekitar 50-60%. Kalau harganya tinggi dibatasi seperti tahun 2019 kemarin, harga tinggi kita hanya memakai 35% formula pakan ayam. Jadi sangat bergantung ketercukupan dari harga jagung pemakaian dalam pakan ayam itu," ujar Desianto.

"Perlu diingat bahwa 90% lebih pakan yang dihasilkan oleh anggota pabrik pakan GPMT itu adalah pakan ayam. Jadi perunggasan sangat menentukan nadi hidupnya industri pakan di Indonesia," imbuhnya.

Mengutip keterangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Desianto menjelaskan logistik menjadi salah satu penyebab harga jagung tidak stabil. Kondisi ini juga terjadi bertahun-tahun dan tahun ini menjadi yang paling terparah.

"Karena panennya sekarang kan ada di Gorontalo, NTB, NTT itu. Padahal sentra produksi pakan kan ada di pulau Jawa, sehingga ada semacam distorsi logistik. Sehingga sentra produksi pakan di Jawa, waktunya masih panen di luar jawa," ujarnya.

"Jadi ada anomali harga jagung tinggi, itu menurut Direktorat Jenderal Tanaman Pangan itu dipengaruhi oleh harga jagung internasional yang ikut naik. Patut diketahui harga bahan pakan kan naik mulai dari SBM, kedelai, jagung gandum semuanya naik kan," imbuhnya.

Ia pun mengusulkan agar pemerintah melalui Bulog atau BUMN yang lain mempunyai gudang stok nasional khusus jagung. Selain itu, dibutuhkan early warning system untuk mengantisipasi harga jagung yang mengalami fluktuasi seperti saat ini. Sama seperti Achmad, ia juga mengusulkan agar harga acuan ayam hidup bisa direvisi.

"Kita mendukung pemerintah untuk swasembada jagung, itu oke. Cuma sebenarnya jangan diartikan impor itu diartikan hitam dan merah dan sebagainya hingga gak nasionalis. Daripada kita menanggung beban. Sekarang harga jagung nasional juga tinggi, kadang-kadang harga jagung lokal sampai Rp 6.000 tapi harga impor jagung hanya landed cost Rp 3.500-4.000 kan mending diberi kesempatan," ujarnya.

"Kalau khawatir jagung lokal nggak bisa keserap, yang impor kan Bulog mas. Jadi menurut pemerintah yang boleh impor jagung dan pakan, pemerintah kan bisa atur, waktunya, jumlahnya port-nya di mana. Kan pemerintah yang pegang kuncinya, artinya sebenarnya tidak ada yang salah dengan importasi jika diperlukan baik itu substitusi gandum maupun jagung," pungkas Desianto.

Perubahan Permendag No 7 Masih Dipertimbangkan

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Oke Nurwan menjelaskan sejauh ini pihaknya sudah meminta perusahaan pakan ternak tetap menyediakan ketersediaan pakan. Kemenag juga sudah mengirim surat ke Kemenko Perekonomian untuk membentuk cadangan jagung dan kedelai.

"Karena ini harga internasional yang naik, sehingga kami pun belum bisa apa-apa. Kecuali tadi, kalau kita punya cadangan pemerintah, bisa kita turunkan, sementara cadangan pemerintah kan cuma beras," ujarnya.

"Jadi kita mengusulkan untuk dipertimbangkan menyiapkan cadangan pemerintah, tapi seperti nya ini kondisi internasional itu belum bisa diprediksi sampai kapan selesainya, sehingga kami mengusulkan harus ada cadangan pemerintah untuk jagung dan kedelai," imbuhnya.

Adapun terkait usulan perubahan harga acuan ayam hidup di Permendag No 7 tahun 2020, Nurwan menyebut pihaknya masih mempertimbangkan dan akan segera dilakukan perubahan. Saat ini, Kemendag sedang mempertimbangkan agar harga acuan tidak menekan peternak, sementara harga jual ayam hidup saat ini masih di bawah harga acuan.

"Karena tadi over supply itu, jadi tidak hanya harga acuan Permendag-nya saja yang harus diubah tapi pola peternakannya juga," ujar Nurwan.

Sumber: Finance Detik