Blog •  20/01/2020

Ini Cara Mengatasi Hama Ulat Grayak Yang Menyerang Tanaman Jagung

TUBAN - Serangan hama ulat Grayak di wilayah Kabupaten Tuban semakin meluas. Hal ini membuat Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Tuban harus ekstra keras dalam mengatasi wabah hama dengan nama ilmiah Spodoptera ini.

Koordinator Pengamatan Hama Penyakit, Dinas Pertanian Kabupaten Tuban, Lilik Sujayanto menyebutkan, dari laporan yang telah masuk hingga akhir Desember 2019, tercatat seluas 1.787,2 hektar lahan tanaman jagung di 7 Kecamatan yang diserang oleh hama ulat tersebut.

Dari 7 Kecamatan tersebut, meliputi Kecamatan Grabagan ada seluas 1434 hektar, Semanding 54 hektar, Montong 132,2 hektar, Kerek 104 hektar, Jatirogo 26 hektar, Palang ada 6 hektar, serta di Kecamatan Bangilan seluas 31 hektar. Namun saat ini serangan ulat tersebut sudah meluas di hampir seluruh Kecamatan, terutama yang ada tanaman jagungnya.

"Berdasarkan laporan yang masuk di dinas, seluas 1,787,2 hektar ladang jagung petani Tuban di serang hama ulat grayak," ungkap Lilik saat ditemui di Kantor Dinas Pertanian, Kamis, (09/01/2020).

Ia menjelaskan, ada dua jenis ulat grayak yang menyerang tanaman jagung, masing-masing dengan nama ilmiah Spodeptera Frugiperda dan Spodotera Litura. Keduanya sama-sama sangat berbahaya, karena menyerangnya merata, mulai daun hingga ke pangkalnya.

"Tidak hanya di Tuban, tapi hama yang juga disebut ulat tentara ini juga sudah melanda di seluruh ladang jagung se-Indonesia," paparnya.

Dampak dari serangan hama ulat grayak ini hanya sampai sekitar 30 hari. Dan yang paling berbahaya adalah pada saat ulat berusia 7 sampai 14 hari. Saking parahnya, dalam satu batang tanaman jagung ada sekitar 3 sampai 5 ulat.

Untuk itu, ia merekomendasi kepada petani Tuban, agar sebelum dilakukan penyemprotan menggunakan racun atau pestisida, baiknya ditabur menggunakan abu dapur terlebih dahulu pada pupusnya. Bisa juga tanaman jagung disemprot menggunakan air gula. Hal itu dilakukan untuk memancing semut agar memakan ulat tersebut.

"Jangan menyemprot tanaman jagung seperti saat menyemprot padi. Usahakan agar nozzle-nya miring, agar racun dapat masuk hingga ke dalam tongkol atau pupusnya," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tuban, Darmadin Noor mengaku bahwa, adanya serangan ulat grayak ini, tim penyuluh di setiap kecamatan membuat Gerakan Pengendalian (Gerdal) dan hampir setiap hari terjun ke lapangan melakukan pendamping kepada para petani.

"Setiap hari teman-teman penyuluh turun ke lapangan. Bahkan mereka juga tidak kenal hari libur akibat wabah ulat grayak ini," tambahnya.

Ia juga berpesan agar saat melakukan penyemprotan, petani menggunakan insektisida yang menandungan bahan aktif Abamektin. Dosisnya, dalam satu tangki semprotan air diberikan satu tutup botol, atau sekitar 250cc obat digunakan untuk seperempat lahan.

"Kami belum ada rekomendasi obat khusus. Tapi itu inovasi teman-teman penyuluh dari Kecamatan Grabagan. Meski tidak sesuai SOP, tapi Alhamdulillah obat tersebut sangat efektif membunuh ulat serta telur kaper. Dan lagi harus dilakukan satu minimal satu minggu sekali," pungkasnya.

Sumber: Suaraindonesia