Blog •  09/06/2021

Inovasi Kamilus Berdayakan Petani, dari Mulsa Alami hingga Mall Ladang Jagung

© Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia
© Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

Kabupaten Flores Timur (Flotim) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk 10 besar Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) tahun 2021. Salah satu penilaian terkait dengan inovasi pembangunan.

Seorang petani di Pulau Adonara, tepatnya di Honihama, Desa Tuwagoetobi, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur terpilih berkat inovasinya di dunia pertanian.

Adalah Kamilus Tupen Jumat, sang petani inspiratif ini berceritera banyak soal perjuangannya memotivasi petani.

Kamilus percaya manusia bagian dari alam, sehingga ketika manusia menghargai alam, maka alam pun memberikan kebaikan bagi manusia. Ia memegang prinsip tanam apa yang kita makan dan makan apa yang kita tanam.

“Saya percaya bahwa batu juga hidup sehingga saya mendengarnya meskipun tidak berbcara tetapi dari sinyal-sinyal yang dikirimkan kepada kita ada pesan yang ingin disampaikan,” tuturnya saat ditemui Mongabay Indonesia, di kebunnya, Minggu (16/5/2021).

Kamilus meninggalkan kenyamanan hidup di Malaysia sebagai manager perusahaan. Tahun 2000 pasca reformasi ia menginjakkan kaki di Kota Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur.

Ia tinggal di Larantuka hingga tahun 2003 dan pulang ke Adonara menjadi petani dengan membawa dua traktor bantuan pemerintah tahun 2004. Sebenarnya ia mau langsung pulang ke kampungnya di Pulau Adonara tetapi mampir dan tinggal di Kota Larantuka untuk belajar terlebih dahulu.

“Kalau semua orang di kampung bisa hidup dari pertanian kenapa saya tidak bisa? Daripada hanya teori saja lebih baik saya terapkan. Saya hanya memilih tinggal di kampung dan memilih jalan hidup sosialis sehingga saya tidak jadi pedagang,” ungkapnya.

Koperasi Tani Unik

Setibanya di kampung halaman, ia melihat banyak sekali lahan tidur pertanian. Dia berpikir harus membuat pengelolaan manajemen tenaga kerja di kalangan petani.

“Seorang janda yang memiliki lahan tidak bisa menggarapnya. Dia hanya bekerja di kebun orang lain dan mendapatkan upah. Saya ingin agar dia bisa mendapatkan uang dari kebunnya sendiri,” ucapnya.

Kamilus pun membentuk Koperasi Tani Lewowerang (KTL). Koperasi ini sebagai bentuk kritik atas koperasi simpan pinjam yang dinilainya gagal membuat anggotanya meraih kesejahteraan.

Meski bernama koperasi, dirinya menolak menyebutnya koperasi, karena yang ditabung bukan hanya uang, tapi jasa simpan pinjam tenaga kerja. Pinjaman dana pun tidak diberikan dalam bentuk uang tetapi voucher.

“Dana pinjaman dikembalikan dengan cara anggota tersebut bekerja di kebun atau saat membangun rumah. Gaji yang diterima dipotong pinjaman tersebut,” ungkapnya.

Sejak 2004, KTL mulai berjalan tetapi mendapatkan tantangan dan hanya bertahan hingga 2006. Tahun 2010 sekelompok anak muda datang kepadanya menawarkan kalau ide dahulu dihidupkan kembali.

Ia terkenang, saat itu Maret 2010 sekelompok anak muda bertamu di rumahnya. Mereka meminta KTL dihidupkan lagi. Ia mensyaratkan disiapkan 30 anak muda untuk ia presentasikan tentang KTL sebelum diaktifkan lagi. Yang hadir 32 orang.

“Kami sepakat berjalan besoknya. Paginya yang datang 70 orang dengan membawa masing-masing simpanan pokok Rp100 ribu sehingga terkumpul dana Rp7 juta,” kenangnya.

Lelaki kelahiran 19 Oktober 1964 ini menjelaskan uang tersebut dipinjamkan kepada anggota yang hendak membiayai tenaga kerja untuk menggarap kebun, membangun rumah dan jenis pekerjaan lain. Tenaga kerjanya anggota KTL sendiri.

Keesokan harinya mulai bekerja di kebun. Kelompok dibentuk dimana beberapa pemilik kebun menjadi majikan termasuk Kamilus.

Ia pekerjakan 10 orang dimana saat itu laki-laki diupah Rp5 ribu/jam dan perempuan Rp4 ribu/jam dan malamnya gaji langsung dibayar.

“Saya utang Rp400 ribu pinjam dari simpanan Rp7 juta untuk membiayai tenaga kerja. Utang untuk 4 bulan ditambah bunga Rp32 ribu dimana nanti saya kerja orang punya kebun gajinya potong hutang saya,” ungkapnya.

Setiap orang yang berhutang uang tidak perlu mengembalikannya dalam bentuk uang. Ia hanya bekerja di berbagai jenis pekerjaan dan upahnya dipotong pinjamannya.

Ayah 5 anak ini senang akhirnya koperasi berjalan bagus. Lahan tidur yang selama ini menganggur akhirnya tergarap semua. Banyak perantau asal desanya, pulang kampung dan menjadi petani.

Hingga 2013, koperasi ini pun menyebar di berbagai tempat di Kabupaten Flores Timur. Jumlah anggotanya pun mencapai hingga 400 orang.

Bertahan hingga 2014, koperasi ini pun mati dengan sendirinya. Alasannya,semua anggota telah mempunyai uang dan mampu menggarap lahannya. Mereka memilih menjadi majikan sehingga tidak ada buruh lagi.

“Saya tidak kecewa sebab bentuk fisik atau apapun namanya boleh mati tetapi rohnya tetap ada. Dua tahun lalu saya coba hidupkan tapi ternyata tidak ada yang berminat karena semua petani sudah memiliki penghasilan lumayan,” ucapnya.

Mulsa Alamiah

Lahan pertanian di Desa Tuwagoetobi kondisinya berpasir dan humus tanahnya berkurang akibat sering terjadi pembakaran lahan.

Mengatasi hal ini, Kamilus pun memperkenalkan penggunaan mulsa berbahan alami. Sebelum lahan pertanian ditanami jagung, dibuat bedeng seluas satu meter.

Di tengahnya diletakan sampah dedauan, batang jagung serta ranting pohon setinggi mungkin. Lama kelamaan terjadi pelapukan dan terurai semua.

Mulsa organik diberikan setelah tanaman atau bibit ditanam. Keuntungan mulsa ini adalah lebih ekonomis, mudah diperoleh dan menambah kandungan bahan organik pada tanah.

“Penggunaan mulsa ini membuat tanah kembali subur. Selain itu petani tidak kesulitan menyiang rumput karena sulit tumbuh. Lama kelamaan penggunaan pupuk kimia berkurang,” ucapnya.

Suami dari Vinsensia Surat Suban ini katakan, setelah mulsa diperkenalkan, banyak petani menirunya. Mereka melihat dia tidak capek kerja karena rumput tidak tumbuh.

Satu hektare lahan menghasilkan 10 ton jagung. Petani pun meraup pendapatan Rp30 juta bersih selama 4 bulan. Hasil ini belum termasuk kacang hijau atau kacang tanah.

“Bagus kalau ada penelitian sehingga petani bisa mengetahui daun apa yang memiliki kandungan N, P atau K-nya. Dengan begitu maka bisa menekan dan menghindari pemakaian pupuk kimia yang berlebihan,” ucapnya.

Mall Ladang Jagung

Ketika Kelompok Tani Lewolerang sudah berhasil dan terjadi over produksi jagung, tahun 2018 Kamilus memperkenalkan mall ladang jagung Bayolewun menyiasati penjualan jagung.

Ide itu didapatnya saat ada anak muda yang datang membeli jagung muda. Ia menyuruh memetiknya sendiri di kebun. Saat anak muda memetik jagung, ia membuat video.

“Videonya saya tonton berulang-ulang dan saya melihat ada ekspresi berbeda ketika anak muda ini memetik jagung. Saya berpikir, tahun 2019 saya harus membuat mall ladang jagung Bayolewun. Mall ini sudah berjalan tiga tahun,” tuturnya.

Karena mall maka lahan jagung dibagi menjadi 3 lantai. Lantai satu jaraknya 300 meter dari jalan raya, lantai 2 600 meter dan lantai 3 jaraknya 1 km. Lahannya berada di kaki gunung sehingga lantai 2 dan 3 berada di ketinggian.

Tanggal 14 Februari 2021 dalam sehari ia meraih pendapatan hingga Rp16 juta. Sebanyak 8 ribu jagung muda terjual dengan harga Rp2 ribu/buah. Pembeli panen sendiri dan bayar di kasir saat hendak pulang.

“Petani lain juga membawa jagung dan hasil panennya ke tempat saya. Konsepnya mall maka penjualannya harus satu pintu. Saya senang, petani lain juga mulai meniru mall ladang jagung saya,” ucapnya.

Menurut Melki Koli Baran, Direktur Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) Flores Timur, Kamilus merupakan sosok petani inovatif dan pekerja keras.

Meli sebutkan Kamilus selalu saja berinovasi dalam bertani dan mampu mengajak petani lainnya mengikuti apa yang dilakukannya. Berkat kerja kerasnya, petani pun bisa lebih sejahtera dan lahan tidur beralih jadi lahan pertanian.

“Kamilus merupakan petani yang mampu berinovasi dan mengubah lahan tandus menjadi subur. Idenya soal simpan pinjam tenaga kerja membuat masyarakat di desanya hidup lebih sejahtera,” ungkapnya.

Melki mengharapkan agar inovasi koperasi yang dikembangkan KTL bisa diadopsi dan diterapkan di Kabupaten Flores Timur.

Menurutnya, masyarakat di Flores Timur memiliki budaya gotong royong yang dinamakan gemohing termasuk saat membuka lahan, membersihkan, menanam hingga panen.

“Budaya ini yang mulai hilang dan coba dihidupkan lagi Kamilus dengan memadukannya dengan sistem koperasi. Tapi koperasi ini bukan simpan pinjam uang tapi yang unik adalah simpan pinjam tenaga kerja,” ungkapnya.

Sumber: Mongabay Indonesia