Blog •  18/03/2021

Jeruk Bangkinang dan Jagung menjadi Komoditi Andalan Poktan Sukma Jaya

BENTENGSUMBAR.COM - Pandemi Covid-19 yang terjadi di negeri ini sejak Maret 2020 sampai saat ini menimbulkan dampak perekonomian masyarakat yang makin menurun. Tingkat pengangguran bertambah akibat kebijakan perusahaan merumahkan mereka. Kelas menengah bergeser statusnya menjadi rentan miskin.

Di dalam masa yang penuh tantangan ini, justru kelompok tani Sukma Jaya, terletak di Nagari Guguak Kuranji Hilir, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat secara perlahan namun pasti mengalami kebangkitannya.

“Tanaman Jeruk Bangkinang dan Jagung menjadi andalan dalam kelompok tani Sukma Jaya saat ini,” ujar ketuanya, H. Ali Akbar. Hal ini diakui oleh Azwirman sebagai bendahara kelompok bahwa pasca gempa 30 september 2009 kami diberi bantuan oleh LSM Mercy-USA Sumbar berupa benih Jagung Pioneer P-21 ditambah uang pengolahan lahan sebesar Rp. 500 ribu per-ha serta pupuk untuk lahan seluas 20 ha.

Bantuan tersebut diterima pada bulan Januari - Februari 2010 dan disalurkan kepada masyarakat yang terkena dampak musibah gempa. “Pada saat itu pula saya mencanangkan bahwa untuk ke depan, Korong Paingan, Kenagarian Kuranji Hilir, Kecamatan Sungai Limau ini menjadi sentra jagung,” H. Ali Akbar menambahkan. Setelah adanya pemekaran pada tahun 2012, Korong Paingan berubah status menjadi Nagari Guguak Kuranji Hilir.

Melihat kepada kenyataan di lapangan saat ini, memang sudah banyak masyarakat disini menambah usahanya selain ke sawah menanam padi juga menanam jagung. Lahan-lahan yang tidak produktif atau lahan tidur secara perlahan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menanam jagung.

Jeruk Bangkinang yang ada di kelompok tani Sukma Jaya berada di lahan seluas 1.5 Ha untuk saat ini. Sedangkan tanaman jagung yang dikelola oleh anggota kelompok seluas 20 Ha. Potensi lain yang akan dikembangkan menjadi usaha kelompok adalah jahe merah. Sudah ada bibit jahe merah yang siap dipindahkan ke media tanam yang lebih luas, dengan bibit awalnya seberat 35 Kg.

Masih banyak lahan tidur yang bisa dioptimalkan penggunaannya. Hal ini terkait masalah pendanaan yang masih belum memadai. “Kami berharap adanya uluran tangan dari pemerintah untuk mengembangkan potensi tanaman pangan jagung ini di desa kami,” anggota tani lainnya buka suara.

Sumber: BENTENGSUMBAR