Blog •  14/09/2021

Kabupaten Kediri Lumbung Petani Muda Inovatif

© Lely Yuana/TIMES Indonesia
© Lely Yuana/TIMES Indonesia

TIMESINDONESIA, KEDIRI – Fajar mulai menyingsing di Desa Tiru Lor, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Menemani derap langkah petani menuju sawah dan ladang.

Tepat pukul delapan pagi. Beberapa petani muda berkumpul dalam sebuah pertemuan. Namanya Sekolah Lapang. Ada penyuluh pertanian dari kecamatan dan Dinas Pertanian Kabupaten Kediri.

Ruang Sekolah Lapang terletak di bawah pepohonan rindang tanah lapangan sepak bola. Samping kanan dan kiri area persawahan. Ada tanaman cabai dan jagung. Mereka duduk beralas tikar luas. Mendapatkan lembar materi tentang tanam cabai. Sesaat kemudian sekolah dimulai.

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Gurah, Wawan Nur Rochim memandu jalannya kegiatan pagi itu. Semua petani yang hadir duduk dengan tertib saat dua orang pemateri lulusan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya menyampaikan pemaparan. Terjadi diskusi yang menarik. Para petani muda banyak mengulik perihal inovasi tanam cabai.

Andri (36 tahun) adalah petani cabai yang sudah dua kali mengikuti materi Sekolah Lapang. Ia mendapat materi cara pembibitan.

"Saya ingin maju dan hasil panen meningkat," katanya, Selasa (7/9/2021).

Selama ini Andri bercocok tanam menggunakan cara-cara tradisional. Maka, ia berharap bisa menyerap lebih banyak ilmu pengembangan teknologi pertanian.

Di sela pertemuan itu, Wawan menerangkan, Sekolah Lapang atau SL sudah berlangsung sejak 2020 dan berlanjut hingga tahun ini.

Ada tiga kegiatan dalam Sekolah Lapang. Setiap kegiatan menyesuaikan pola tanam di masing-masing wilayah pertanian.

"Di Desa Tiru Lor ini menggunakan pola tanam padi, jagung, dan cabai," katanya, Selasa (7/9/2021).

Sekolah Lapang dengan materi komoditas cabai rawit tersebut merupakan program pada musim tanam kedua setelah pola tanam padi awal tahun lalu. Pertemuan dengan materi cabai sudah berlangsung sekitar 3-4 minggu dengan mematuhi protokol kesehatan.

"Pertemuan kita lakukan di luar gedung untuk meminimalisir penularan Covid-19," ungkap Wawan.

Maka, terhitung Sekolah Lapang cabai rawit telah berlangsung selama enam kali pertemuan. Selain materi, para petani juga diajak untuk studi lapang di lahan cabai.

Mereka mendapatkan materi inovasi teknologi pertanian guna meningkatkan produksi dan produktivitas. Selain itu juga materi tentang pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai.

"Tanaman hortikultura di Desa Tiru Lor khususnya cabai ini sangat rentan terhadap serangan OPT atau Organisme Pengganggu Tanaman," terang Wawan.

Selain itu, para petani juga mendapat materi penggunaan pupuk organik cair dan pestisida nabati yang ramah lingkungan. Apalagi bahan bakunya mudah didapat.

Wawan mengatakan, potensi petani muda di Desa Tiru Lor sangat tinggi. Mereka semangat berinovasi dari tahun ke tahun untuk meningkatkan produksi. Bahkan potensi tanam hortikultura mencapai 40-50 persen.

Sementara itu, Kaserin, Kepala Desa Tiru Lor, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, membenarkan bahwa saat ini petani di wilayahnya menjadi sasaran Sekolah Lapang. Rata-rata pesertanya adalah petani muda yang kreatif dan tertarik mencoba metode baru. Banyak petani berusia 30 tahun ke bawah.

"Banyak yang muda, kalau yang tua taninya kan klasik. Tanamannya cari yang nggak berisiko," terang Kaserin yang juga menjadi Ketua Kelompok Tani Karya Sejati sejak 1992 ini.

Ia menjelaskan jika petani muda rata-rata memiliki ketertarikan menanam hortikultura. Padahal jenis tanaman ini disebut kerap berisiko tinggi. Desa Tiru Lor sendiri memiliki tanaman unggulan yaitu cabai bervariasi. Ada jenis hybrida dan jenis lainnya.

"Memang anak-anak muda berani tantangan," jelasnya.

Kaserin menambahkan, Sekolah Lapang dimulai sejak 2020 silam. Durasi maksimal 20 kali pertemuan. Selesai jarak satu bulan mulai lagi komoditas yang lain.

"Misal padi, cabai dan berganti-ganti. Diajari inovasi dan teknologi pertanian. Terutama berkaitan dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia," ujarnya.

Saat ini jumlah petani muda di Tiru Lor cukup banyak bahkan mayoritas. Mereka melanjutkan profesi keluarga. Ada pula yang berprofesi ganda. Maka tak heran jika total lahan produktif di kawasan ini mencapai 400 hektar.

"Memang ada yang satu dua mempunyai profesi ganda," katanya.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Anang Widodo mengatakan Sekolah Lapang adalah bagian dari kegiatan Integrated Participatory Development and Management Irrigation Program (IPDMIP). Kegiatan berupa pemberdayaan petani pengguna air.

IPDMIP adalah program pemerintah di bidang irigasi yang bertujuan untuk mencapai keberlanjutan sistem irigasi, baik sistem irigasi kewenangan pusat, kewenangan provinsi maupun kewenangan kabupaten. Upaya ini diharapkan dapat mendukung tercapainya swasembada beras sesuai program Nawacita Pemerintah Indonesia.

Anang mengatakan, saat ini Kabupaten Kediri fokus pada program prioritas Mas Bupati, sebutan Bupati Kediri Dhito. Yakni program pertanian berkelanjutan. Salah satunya mendukung program Desa Inovasi Tani Organik (DITO).

"Untuk menggaet petani-petani muda, kita berusaha menggunakan teknologi yang ada tapi teknologi yang tepat guna," katanya.

Ini,  lanjut Anang, membuat petani tidak konvensional lagi. Mereka diajari pemakaian alat-alat tepat guna misal untuk mengurangi rumput atau penanganan hama penyakit menggunakan pestisida nabati.

"Semua bisa diberdayakan dan dibuat sendiri. Harapan kami bagaimana sesuatu yang praktis itu bisa dilaksanakan oleh petani tetapi nilai kemanfaatan jauh lebih tinggi. Itu konsepnya seperti itu," imbuh Anang.

Semua konsep ini mendukung terselenggaranya Sekolah Lapang. Para petani mendapat bekal mulai tenik budidaya Tanpa Olah Tanah (TOT) sampai dengan panen.

"Itu semua kami ajarkan dan pelatihan praktek langsung di lahan. Nanti kita bantu biaya sewanya, benih, pupuk, obat-obatan yang ramah lingkungan itu nanti kita ajarkan semua," ujarnya.

Anang mengatakan, konsep ini sekaligus menunjukkan bahwa pertanian bukanlah sesuatu yang kotor dan sulit. Karena sektor pertanian merupakan usaha yang mampu tetap survive hingga masa mendatang. Salah satunya melalui manajemen yang baik.

"Kalau bicara tentang teknologi, hari ini pasti bergerak semua. Hari ini dan besok handphone sudah berganti. Android besok sudah berganti. Tapi dengan bertambahnya manusia, yang jelas pangsa pasar yang paling besar adalah kebutuhan hidup dalam hal ini pangan," ucapnya.

Namun Anang mengakui jika kendala bagi petani saat ini adalah manajemen. Baik itu manajemen budidaya maupun penggunaan teknologi.

"Saya kira petani-petani muda itu lebih cenderung kerso (minat), ingin melihat pertanian ini sesuatu yang keren. Bukan sesuatu yang konvensional, kalau kita bicara sesuatu yang konvensional meluku (membajak) itu juga pakai sapi, ya mungkin itu jadi hiburan boleh, jadi wisata. Tapi sekarang teknologi banyak sekali," bebernya.

Lebih lanjut, Anang mengatakan Kabupaten Kediri sendiri tengah mengembangkan tanaman hortikultura bagi petani milenial. Bukan sekedar tanaman pangan.

"Saat ini kami sudah mengonsep dari pemerintah daerah untuk pengembangan petani muda milenial. Khususnya di hortikultura," katanya.

Petani milenial nanti bisa mendapatkan ilmu pengembangan teknologi seperti hidroponik. Semua serba android. Pemkab telah mengembangkan di beberapa titik.

"Harapannya ke depan itu menjadi branding Kabupaten Kediri. Kabupaten Kediri saat ini juga sudah punya dengan SK Menteri Pertanian kita ada Duta Petani Andalan, Duta Petani Milenial. Yang notabene rata-rata mereka berbicara di tanaman-tanaman hortikultura sayur dengan teknologi yang tepat guna," tambahnya.

Tanaman hortikultura yang dikenalkan tidak memakan biaya tinggi atau istilahnya bukan sesuatu yang mahal, tidak high cost, dan juga tidak high capital.

"Itu bisa dilaksanakan kok semua orang. Itu yang lagi kita branding disiapkan oleh Mas Bupati untuk Kabupaten Kediri," tandasnya.

Anang menjelaskan, saat ini Sekolah Lapang IPDMIP sudah terlaksana di sembilan Daerah Irigasi (DI).

Namun selain IPDMIP, Dinas Pertanian Kabupaten Kediri juga membuka Sekolah Lapang untuk organik, Sekolah Lapang pengurangan pupuk dan Sekolah Lapang untuk penanganan penyakit. Sekolah Lapang bahkan hampir merata di 26 kecamatan. Penerapan Sekolah Lapang sangat praktis dan mudah diaplikasikan oleh para petani.

Sekolah Lapang sendiri sebetulnya menyasar para petani muda yang jauh lebih mudah menyerap teknologi. Saat ini 50 persen peserta Sekolah Lapang adalah petani milenial.

Kemandirian Pangan

Kehadiran petani milenial adalah upaya menjaga kemandirian pangan. Mandiri bagi petani dan merdeka dari ancaman krisis pangan akibat pandemi Covid-19.

Maka tak heran jika Kabupaten Kediri terus fokus mempertahankan lahan produktif dan melakukan regenerasi petani muda.

Anang merinci, area tanam padi dan jagung di Kabupaten Kediri luasnya tak berbeda jauh. Rata-rata 49.000 hektar - 51.000 hektar per tahun. Sementara area tanam cabai mencapai 7 ribu hektar per tahun dan nanas 3.500 hektar per tahun.

"Jadi hortikultura maupun pangan Kediri cukup menjadi buffer atau penyangga yang cukup untuk ketahanan pangan," ujar Anang.

Hal ini sesuai dengan program Pemkab Kediri mendorong pertanian berkelanjutan, pengembangan kawasan agropolitan, dan pengembangan desa inovasi tani organik. Tim penyuluh menggandeng akademisi. Sedangkan pengembangan agropolitan menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Itu semua sebenarnya mendukung bagaimana kemandirian. Tidak hanya ketahanan pangan. Tapi kemandirian pangan itu bisa tercapai," tegasnya.

Menurut Anang, kemandirian pangan lebih dari bicara produksi. Namun petani harus benar-benar mandiri. Misal bisa membuat pupuk dan pestisida sendiri.

Berbicara tentang kemandirian dan ketahanan pangan tak bisa lepas dari regenerasi petani muda.

Oleh sebab itu, Pemkab Kediri terus mendorong branding dan pengenalan pada anak-anak muda bahwa bertani adalah profesi yang keren dan aplicable berkat dukungan teknologi.

"Jadi kadang-kadang mereka berpikir petani itu hasilnya kurang menjanjikan, terus berkotor-kotor dengan rumit. Padahal tidak seperti itu," ucap Anang.

Ia menambahkan, pertanian dengan dukungan manajemen yang baik akan mampu menjadi penyangga ekonomi.

"Apalagi hari ini yang jelas survive di kondisi pandemi itu di sektor pertanian. Karena semua pasti membutuhkan itu tinggal bagaiamana handling di budidaya dan pasca panen," ungkap Anang.

Sumber: TIMESINDONESIA