Blog •  2020-02-28

Kemarau, Petani Jagung Karo Terancam Gagal Tanam

Medanbisnisdaily.com – Tanah Karo. Kemarau dalam kurun waktu sepekan belakangan, membuat petani jagung di dataran tinggi Kabupaten Karo, Sumatra Utara, terancam gagal tanam. Belum adanya sistem drainase yang pas sasaran, ke areal pertanian tanaman dengan nama ilmiah Zea Mays ini, membuat petani harus pasrah dan ketergantungan terhadap curah hujan.

“Sudah seminggu ditanam, tetapi sampai hari ini belum ada turun hujan. Bukan hanya saya, tetapi petani yang telah menanam pekan lalu, sangat khawatir mengalami gagal tanam musim ini. Tanah sudah sangat kering, kami risau bibit gagal tumbuh” ujar petani jagung Kecamatan Juhar Melhi Tarigan kepada medanbisnisdaily.com, Rabu (26/2/2020).

Jika mengalami gagal tanam, sesuai keterangan Melhi, para petani akan mengalami kerugian jutaan rupiah per hektarnya. Dengan rincian, biaya traktor ulang Rp 1.000.000. Bibit 3-4 sak (satu sak 5 kgd) dengan variasi harga Rp 400.000- Rp 475.000 (variatif tergantung merek dagang), dan biaya tenaga kerja Rp 200.000/sak bibit.

Tidak jauh berbeda, Eben Pinem, petani jagung Kecamatan Tiga Binanga juga menuturkan hal yang tidak jauh berbeda. Menurut Eben, untuk menghindari gagal tanam, dirinya untuk sementara menunda penanaman. Ia memilih menunggu turunnya hujan, untuk menghindari dampak kerugian materi. Namun demikian sambungnya, resiko tanam belakangan adalah serangan hama.

“Jika tidak mengikuti tanam serentak resikonya lumaya tinggi. Serangan hama ulat, tikus, kera, atau lainnya cukup riskan. Petani lain sudah panen, kemungkinan besar dan biasanya hama beranjak ke areal pertanaman kita. Jadi menanam belakangan menunggu hujan, juga bukan suatu jaminan pasti akan berhasil. Semoga kedepannya ada solusi konkrit dari pemerintah”, ujar Eben Pinem

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Metehsa Karo-Karo kepada medanbisnisdaily.com melalui telepon selularnya mengatakan, pihaknya masih melakukan kajian terkait penanggulangan masalah gagal tanam akibat kemarau yang senantiasa berulang. Sehubungan pembangunan embung di sejumlah kawasan sentra jagung Karo, Dinas Pertanian Karo menganggap kurang efektif.

“Pembangunan embung untuk menanggulangi masalah gagal tanam ketika kemarau, dinilai kurang ekonomis. Bahkan menambah cos biaya produksi. Embung dapat menambah konflik internal petani. Pembagian air dari embung menuai permasalahan, termasuk biaya operasional (minyak mesin pompa), jadi harus dikaji lebih jauh lagi”, ujar Metehsa.

Sumber: Medanbisnisdaily