Blog •  05/05/2020

Kincir Air Tradisional di Kadugede, Andalan Petani Padi Sawah Tadah Hujan

KUNINGAN, (PR).-  Di saat banyak petani khawatir sawahnya puso karena kekeringan, sejumlah petani padi sawah tadah hujan pengguna kincir air tradisional, di tepian Sungai Cisanggarung Desa Kadugade, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan,meski musim kemarau tak pernah khawatir tanaman padinya kekurangan air. Bahkan, terpantau “PR” Kamis 27 Juni 2019, petakan-petakan sawah tadah hujan dengan alat bantu pengairan tradisional di desa tersebut banyak yang baru ditanami padi.

“Walaupun blok-blok pesawahan ini merupakan sawah tadah hujan, tetapi dengan bantuan kincir air tradisional seperti ini bisa terus-menerus ditanami padi hingga bisa dua kali panen dalam setiap tahunnya,”  ujar Sahrudin (70),  seorang petani  yang sedang menengok kincir air pemasok air sawah tadah hujan milik adiknya, di tepi Sungai Cisanggarung, sekitar Dusun Kaliwon, Desa Kadugede, Kamis 27 Juni 2019.

Aje (18) santri di Pondok Pesantren Al-Anwar, dan sejumlah warga lainnya di desa tersebut, juga menyebutkan Sungai Cisanggarung melintasi desanya itu nyaris tak pernah surut aliran airnya. Pasalnya alur Sungai Cisanggarung setiap musim kemarau selalu mendapat pasokan, dan menjadi bagian penyalur langsung air dari Waduk Darma.

Sementara itu, alat pengairan tradisional dikenal dengan sebutan kincir air tersebut sama seperti umumnya yang dibuat masyarakat di sejumlah daerah lainnya. Bentuknya berupa lingkaran berdiamter antara 4 hingga 6 meter, lebar sekitar 50 hingga 70 centimeter, menggunakan bambu dan kayu. Sekeliling lingkaran luarnya ditempeli bilah-bilah papan atau lembaran seng persegi berbingkai bambu serta potongan-potongan ruas bambu dengan satu ujungnya terbuka,satu ujung lainnya tertutup.

Menurut sejumlah petani dan warga desa tersebut, kincir air tradisional itu sejak zaman dulu hingga sekarang masih dipertahankan,dan banyak dibuat masyarakat terutama pada setiap musim kemarau. Tidak hanya untuk pengairan sawah atau ladang pertanian, tetap juga untuk mengairi kolam. Malahan kolam-kolam di Pondok Pesantren Al Anwar Desa Kadugede, sepanjang tahun selalu mengandalkan pengairan dengan kincir air dari sungai tersebut.

Sumber: Pikiran Rakyat