Blog •  08/06/2020

Melihat Hasil Karya Ranu Adi, Pengrajin Tongkol Jagung asal Pati

© Tribun Jateng/Mazka Hauzan Naufal
© Tribun Jateng/Mazka Hauzan Naufal

TRIBUNJATENG.COM, PATI – Ranu Adi (49) menunjukkan sebuah pigura artistik berbahan tongkol jagung, atau yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan sebutan “janggel”.

Di tengah pigura tersebut, terdapat pahatan bambu berbentuk topeng/wajah manusia.

“Pigura janggel ini sekitar 2017 lalu pernah diminta untuk ekspor ke Kanada. Tapi saya tidak bisa menyanggupinya. Sebab, jumlah yang diminta sangat besar, dua sampai tiga kontainer per bulan. Tidak sebanding dengan jumlah pengrajin di Pati yang hanya segelintir,” ujar pengrajin spesialis tongkol jagung ini ketika ditemui Tribunjateng.com di kediamannya, Desa Sarirejo Gang 2, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, Jumat (5/6/2020) sore.

Kediaman Ranu juga merupakan bengkel/studio Tyara Craft, tempat dia menghasilkan aneka kerajinan tangan berbahan dasar tongkol jagung.

Ranu mengisahkan, ia mulai menekuni kerajinan janggel jagung sejak akhir 2016. Keterampilan ini ia pelajari secara otodidak. Sebelumnya, ia memang telah lama terjun ke dunia kepengrajinan. Hanya saja, sebelum mendapat ide untuk menggarap tongkol jagung, ia lebih banyak mengerjakan kerajinan berbahan dasar kaca.

Pada 2017, ia pernah mengikuti pameran yang diselenggarakan Dinas Koperasi dan UMKM Pati di Stadion Joyokusumo Pati. Rekan sejawatnya, seorang pengrajin bambu dari Malang, berkunjung ke stan pamerannya ketika itu.

“Teman saya itu tertarik melihat pigura janggel ini sebagai pengganti bambu. Kalau bambu, kan, rentan pecah dan berat, sedangkan ini lebih ringan dan kuat. Singkat cerita, kemudian dia yang menghubungkan dengan calon pembeli di Kanada. Karena saya tidak menyanggupi akibat kekurangan SDM, dia kemudian menawari saya untuk mengerjakannya di Malang. Kebetulan di tempat dia banyak karyawan. Saya diminta buat di sana dengan brand Malang, tapi saya tolak,” ungkap bapak tiga anak ini.

Ranu menjelaskan, ia menolak tawaran untuk mengerjakan pembuatan pigura di Malang karena ia keberatan jika harus menggunakan merek dari daerah lain.

“Sebab, tujuan saya mengangkat nama Pati. Saya ingin Pati dikenal dengan kerajinan janggel jagungnya,” tegas lelaki yang bergiat di Komunitas UMKM Pati (Kupat) ini.

Pigura janggel jagung kreasi Ranu, bergantung besar-kecilnya, dibanderol dengan harga antara 100 sampai 200 ribu rupiah. Bisa diperkirakan, berapa miliar rupiah potensi ekonomi yang didapatkan jika permintaan ekspor ke Kanada disanggupinya.

“Jadi potensi kerajinan janggel ini sangat bagus. Tapi jumlah SDM-nya belum memadai. Sebetulnya saya butuh banyak teman untuk memproduksinya,” ucap dia.

Ranu menjelaskan, bahan dasar tongkol jagung bisa dikreasikan menjadi berbagai macam produk. Di antaranya perhiasan seperti cincin, gelang, dan kalung. Bisa pula barang-barang suvenir berukuran kecil seperti pena, gantungan kunci, tasbih, pipa rokok, dompet, dan kap lampu. Bahkan, janggel jagung juga bisa dikreasikan menjadi produk-produk penunjang desain interior, di antaranya perabotan, sketsel, keramik, dan hiasan dinding.

“Produk terbaru yang saya buat jam tangan. Cukup lama buat ini karena tingkat kerumitan dan detailnya cukup tinggi. Produk jam tangan ini saya jual dengan kisaran harga Rp 750 ribu sampai Rp 1,5 juta, bergantung kerumitan motif dan jenis mesinnya,” jelas pria yang pada 2019 lalu menyabet Juara 3 dalam Lomba Krenova (Kreativitas dan Inovasi) kategori umum tingkat Kabupaten Pati ini.

Ketika ditanya mengapa ia tertarik untuk menggeluti kerajinan janggel jagung, Ranu menjelaskan dua alasan utama. Pertama, bahan bakunya sangat murah dan melimpah. Tongkol jagung biasanya dibuang begitu saja oleh petani.

“Saya biasa dapat gratis dari petani di Desa Sukobubuk (Kecamatan Margorejo) dan Kecamatan Gembong. Di Pati daerah selatan, antara lain Kayen dan Sukolilo juga banyak. Kadang saya juga beli dengan harga murah, sekarung cuma 5 sampai 10 ribu,” jelasnya.

Alasan kedua, setelah diproses, tongkol jagung memiliki keunikan motif yang tidak dimiliki bahan lain.

Dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya, Ranu mengakui, mengolah janggel jagung sedikit lebih sulit dibanding bahan kerajinan lain seperti bambu dan kayu. Namun, menurutnya, keunggulan yang dihasilkan juga sebanding dengan proses pembuatannya.

“Mengapa lebih sulit dari bahan kayu, karena janggel ini harus melalui proses pengerasan. Orang mungkin mengira janggel jagung ini rapuh. Tapi saya berani menggaransi, setelah saya proses, bahan ini sangat kuat dan awet,” ucapnya yakin.

Secara ringkas, Ranu menjelaskan proses pembuatan kerajinan tongkol jagung. Mula-mula, ia memilih janggel yang tua, kemudian ia keringkan. Setelah kering, bahan dibentuk dan dirangkai sesuai keinginan. Setelah diampelas hingga halus, hasil kerajinan kemudian diberi pengawet supaya tidak dimakan serangga.

“Kemudian kita ampelas lagi, lalu finishing dua-tiga kali. Janggel ini pori-porinya besar, jadi prosesnya lumayan panjang. Barang-barang kecil seperti souvenir pengantin, satu orang per hari mungkin bisa buat 20-30 buah. Tapi kalau barang yang rumit perlu berhari-hari, karena memang harus betul-betul keras. Kita juga harus pilih bahan yang motifnya bagus dan pas,” papar alumnus SMA Nasional Pati ini.

Dalam memproduksi kerajinan, Ranu dibantu oleh lima orang. Tiga orang membantu pengampelasan di Desa Sukobubuk, sedangkan dua lainnya membantu merangkai kerajinan di studio.

Ranu berharap, pemerintah daerah bisa memfasilitasi pelatihan-pelatihan untuk menghasilkan pengrajin-pengrajin baru. Ia menegaskan, pasar kerajinan ini sudah ada dan cukup menjanjikan. Karena itu, semakin banyak pengrajin justru semakin bagus.

Seandainya diminta untuk memberi pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK), tanpa ragu ia akan menyanggupi. Sebab, ia memang bercita-cita menjadikan Pati sebagai sentral kerajinan janggel jagung.

“Semakin banyak pengrajin janggel jagung, saya makin senang. Pasar sudah ada, jadi tidak perlu cemas,” kata dia.

Ditanya mengenai kecenderungan penurunan daya beli masyarakat di tengah pandemi virus corona, Ranu menjawab dengan mantap, “Ini kerajinan tangan, bukan makanan. Kalau kita buat produk, kita seperti menabung. Kerajinan tangan ini tidak akan busuk, suatu saat akan laku juga.”

Sumber TRIBUNJATENG