Blog •  29/06/2021

Mengenal Aset Paling Bernilai Di Perkebunan Kelapa Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA -Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwa komoditas kelapa sawit telah menjadi sumber bahan baku bagi banyak industri, baik itu industri makanan dan minuman, industri kosmetik, obat-obatan dan industri mesin-mesin serta transportasi darat, bahkan sekarang sudah mulai menjadi bagian yang dibutuhkan industri penerbangan, lantaran minyak sawit bisa diproses lebih lanjut untuk dijadikan Avtur sebagai bahan bakar pesawat terbang.

Di dalam mengelola perkebunan kelapa sawit tentunya saja ada hal-hal yang bernilai, lantaran bila asset yang mempunyai nilai tinggi tidak menjadi perhatian dan diabaikan, maka dipastikan perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut akan tidak bisa mencapai sukses dan memiliki keuntungan tinggi.

Lantas apa sajakah aset di perkebunan kelapa sawit yang memiliki niai tinggi tersebut? Beikut pembahasannya.

Pohon Kelapa Sawit

Pohon Kelapa sawit merupakan aset utama yang menentukan apakah perusahaan bisa memperoleh keuntungan tinggi, menjadi First Class Plantation, atau hanya akan menjadi perkebunan yang tidak bisa berkembang dengan kondisi seadanya saja.

Untuk itu pokok kelapa sawit harus diperhatikan mulai dari bibitan “Karena Semua Berawal  Disini”.

Pemakaian bibit unggul dengan produksi tonase dan Oil Extraxtion Rate (OER) yang tinggi merupakan keharusan sehingga mampu mencapai produktivitas minyak sawit (CPO) 7,5 ton/ha/tahun. Hasil ini berasal dari produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang mampu berproduksi 30 ton TBS dengan OER 25%. Dengan kata lain bisa memberikan penghasilan sekitar Rp. 6 Juta per ha, sementara ongkos produksi diperkirakan sekitar Rp. 1,3 juta/Ha. 

Pohon kelapa sawit adalah merupaka pencetak dolar bagi perusahaan, sebab itu mesti dipelihara agar tidak terserang hama penyakit, mempunyai umur yang panjang hingga mencapai 25 tahun, terpelihara dengan standar tehnis kebun yang tepat dengan jumlah per hectare (ha) yang tinggi (standar > 136 pokok/Ha pokok muda dan remaja, serta sebanyak 120 pokok/Ha untuk tanaman tua).

Pemanen

Pemanen ini adalah merupakan karyawan yang paling bawah tetapi mempunyai “nilai” yang paling berharga. Lantaran karyawan inilah yang akan mengevakuasi TBS dari pohon di dalam blok ke Tempat pengumpulan hasil (TPH), yang biasanya terletak di pinggir jalan, sehingga mudah untuk dibawa ke Pabrik dan dilanjutkan diolah menjadi minyak kelapa sawit yang harganya terus semakin meningkat.

Pemanen harus dikelola dengan baik sebagai aset, tetapi harus dibudayakan disiplin sesuai Standar Operasional Produksi (SOP) potong buah sehingga memberikan hasil yang maksimal, diantaranya melalui:

Pusingan Panen 7 hari

Pusingan panen ini adalah merupakan ibu dari pekerjaan panen. Karena dari sinilah sumber keberhasilan panen bisa dicapai. Kalau pusingan 7 hari maka produksi akan maksimal bisa diperoleh, karena TBS tidak sempat menjadi busuk yang merupakan looses yang besar.

Untuk itu maka pusingan harus dijaga dengan ketat tetap bisa 7 hari, bila pusingan menjadi lebih dari 7 hari maka kerja minggu harus dilaksanakan dan jika kurang tenaga kerja pemanen, maka tenaga kerja perawatan diwajibkan panen untuk menurunkan pusingan menjadi 7 hari.

Dalam pelaksanaan pusingan 7 hari maka pengawasan ketat asisten dibantu mandor harus dilakukan setiap hari agar pemanen tidak panen buah mentah untuk meningkatkan penghasilan. Guna mencegah hal ini terjadi maka dibuat sistem jika panen buah mentah, pemanen bukan bertambah penghasilan tetapi akan turun karena dikenakan denda yang tinggi terhadap buah mentah yang diperiksa setiap hari oleh krani, mandor panen, mandor 1, asisten, askep dan Estate Manager.

Sumber: InfoSAWIT