Blog •  18/05/2021

Panen Jagung Masih Melimpah, Kementan Dorong Pola Kemitraan Petani dan Industri

MONITOR, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) terus dorong petani lakukan pola kemitraan untuk penyerapan hasil produksi. Salah satunya pengembangan budidaya jagung dengan pendekatan kawasan korporasi petani mulai tumbuh di beberapa daerah.

Di Grobogan sebagai sentra produksi jagung dan kedelai sudah mulai merintisnya. Grobogan merupakan salah satu lumbung jagung nasional, dengan produksi jagung menyumbang 20 % dari produksi jagung Jawa Tengah dan 2,4 % untuk nasional. Kabupaten Grobogan akan mulai panen jagung bulan Mei ini. Perkiraan panen bulan Mei di Kabupaten Grobogan seluas 14.000 ha, dan seluas 5.000 ha akan panen di lahan hutan Kecamatan Geyer oleh LMDH/Lembaga Masyarakat Desa Hutan.

Menurut Djono, Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, dari panen ini diperkirakan akan menghasilkan produksi jagung sebanyak 80.000 ton. Hasil panen jagung ini akan dijual ke pabrik pakan ternak Charoen Pokpand melalui BUMP (Badan Usaha Milik Petani). Terkait harga jagung saat ini menurutnya mencapai Rp 5.300/kg pipil kering.

Ia mengatakan pengembangan budidaya jagung melalui kawasan korporasi petani jagung di Kawasan hutan memberikan hasil nyata terhadap pendapatan petani dan perubahan pengelolaan pertanian yang lebih maju.

“Budidaya jagung menjadi prioritas kami, karena produksi jagung di Kabupaten Grobogan merupakan salah satu andalan produksi jagung di Jawa Tengah,” kata Djono.

Di kesempatan berbeda, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi mengatakan menyebutkan saat ini hingga Juni 2021, produksi jagung melimpah karena tengah berlangsung masa panen. Berdasarkan angka prognosa, luas panen jagung nasional bulan Januari 373.377 hektare, Februari 623.103, Maret 697.264, April 284.295, Mei 286.682 hektare dan Juni mencapai 324.333 hektare, sehingga produksinya mencapai 14,73 juta ton.

“Luas panen ini menunjukkan produksi jagung dalam negeri melimpah,” kata Suwandi. Oleh karena itu, kata Suwandi, sekarang ini saatnya pelaku usaha jagung dan industri pakan untuk segera menyerap jagung petani. Selain itu yang harus dibenahi adalah sistem logistiknya karena sentra-sentra produksi tidak bersinergi dengan sentra industri pakan ternak

“Sebab, dinamika harga jagung tidak terjadi di semua daerah, kita sudah petakan daerah-daerah sentra panen jagung,” ujarnya.

Suwandi menyatakan upaya dalam upaya meningkatkan hasil panen menstabilkan harga jagung yakni dengan mengoptimalkan aspek hilir yakni penanganan pascapanen, yaitu alat panen, dryer (pengering) dan silo. Penyiapan aspek hilir ini tentunya tidak hanya dilakukan Kementan, namun dari petani jagung dan industri pakan, dan peternak mandiri dengan membangun pola kemitraan.

“Pola selanjutnya adalah korporasi, ini merupakan terobosan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan sesuai arahan Presiden Jokowi. Pemerintah tidak hanya memberikan bantuan prasarana dan sarana produksi, tapi juga fasilitas permodalan dana KUR. Melalui KUR, petani yang tergabung dalam korporasi menjadi lebih maju, mandiri dan modern. Pasar pun terjamin, sehingga petani tidak lagi kenal rugi,” ucap Suwandi.

Lebih lanjut Suwandi menerangkan program korporasi merupakan kegiatan terintegrasi on farm dan hilir sampai industri turunan hingga pemasaran. Program tersebut terintegrasi dengan aspek infrastruktur, alat mesin pertanian (alsintan), budidaya mulai tanam hingga panen dan hilir pasca panen hingga pemasaran.

Tidak hanya itu kelompok tani harus bisa naik kelas kelembagaannya yakni bisa berbentuk cv, koperasi, maupun bumdes. “Kelembagaan yang terpenting adalah pengelolaan manajemen kepengurusan yang baik, oleh karena itu perlu sekali kegiatan seperti ini. Mengumpulkan para pelaku korporasi untuk saling berbagi, memberi informasi untuk menguatkan kelembagaan korporasinya,” bebernya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan pertumbuhan korporasi petani menjadi salah satu program prioritas yang harus diwujudkan untuk membangun proses bisnis dari hulu ke hilir yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional dalam menghadapi tantangan, salah satunya pandemi covid 19 saat ini.

Korporasi petani juga ditargetkan berimplikasi pada penumbuhan semangat generasi milenial untuk terjun memajukan sektor pertanian yang inovatif dan berdaya saing.

Sumber: MONITOR