Blog •  04/08/2020

Panen Padi Bulan Juli di Banyuwangi Capai 88,7 ribu Ton

© Merdeka.com
© Merdeka.com

Merdeka.com - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat jumlah panen padi selama Bulan Juli telah mencapai 88.755 ton gabah dengan luasan panen 13.565 hektar. Sehingga dari tambahan panen di Bulan Juli, total panen padi di Banyuwangi dengan periode Januari hingga Juli 2020 telah mencapai 442.111 ton gabah.

"Alhamdulillah di tengah pandemi Corona (Covid-19) upaya menjaga kestabilan kinerja sektor pangan terus dilakukan bersama-sama. Sepanjang tahun hingga Juni Banyuwangi sudah panen 353.356 ton gabah. Pada Juli lalu ada tambahan panen 88.755," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Senin (3/8).

Anas mengatakan, selama proses masa panen pihaknya meminta dinas pertanian untuk memantau agar petani turut menjaga diri dengan protokol kesehatan, terutama saat proses panen.

"Semua dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan, sehingga kegiatan ekonomi pertanian berjalan dengan baik," katanya.

© Merdeka.com
© Merdeka.com

Sementara itu, katanya, produksi padi di Banyuwangi rata rata dalam setahun mencapai 820 hingga 830 ribu ton padi. Sedangkan kebutuhan konsumsi pangan (beras) penduduk Banyuwangi yang berjumlah 1.745.675 jiwa rata-rata setiap bulan mencapai 12.196 ton beras atau setara dgn 19.671 ton gabah.

"Surplus beras di Banyuwangi pun tetap terjaga dengan produksi tahunan 820.000-830.000 ton padi. Tentu surplusnya dijual ke luar daerah," ujarnya.

Kepala Bidang (Kabid) Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi, Ilham Juanda mengatakan produksi panen padi di Banyuwangi sendiri rata rata dalam setahun bisa mencapai 828.000 ton, sehingga masih bisa mencukupi kebutuhan logistik untuk daerah lain.

"Dari produksi untuk kebutuhan konsumsi masih aman, sehingga kita banyak suplai kebutuhan (padi atau beras) ke Bali, NTT, Kediri, Trenggalek. Cuma situasi pembatasan sosial, sehingga distribusi barang tidak lancar," ujarnya.

© Merdeka.com
© Merdeka.com

Sementara itu, pihaknya mengimbau kepada petani agar menghidupkan kembali lumbung lumbung padinya untuk cadangan makanan, apalagi selama menghadapi masa wabah virus Covid-19.

"Diimbau hasil panen jangan semua dijual. Penyuluhan kita lakukan, bahkan sebelum pandemi kita juga selalu imbau agar tidak jual semua. Misalkan luas panen setengah hektar, dengan produksi 5 ton, paling tidak 10 persennya disimpan untuk kebutuhan konsumsi," katanya.

Pihaknya juga mengimbau agar petani mengoptimalkan mesin panen padi bantuan dari pemerintah yang disalurkan ke kelompok kelompok tani untuk mengurangi potensi terjadinya kerumunan di masa pencegahan penyebaran Covid-19.

"Petani kan tetap harus keluar rumah untuk panen, jadi bisa optimalkan alat panen bantuan dari pemerintah yang diberikan ke kelompok tani itu agar tidak terjadi kerumunan. Dan tetap harus pakai masker," katanya. 

Sumber: Merdeka.com