Blog •  17/12/2019

Pengelompokan Herbisida untuk Mengendalikan Gulma

Gulma adalah rumput liar yang tumbuh diantara pertanaman budi daya. Gulma akan menjadi pesaing dalam memperoleh nutrisi (unsur hara), air dan sinar matahari. Sehingga keberadaan gulma dapat mengganggu pertumbuhan tanaman utama.

Gulma pada tanaman biasanya dikendalikan dengan cara penyiangan (matun). Namun, pengendalian gulma dengan cara ini dirasa kurang efektif untuk di daerah yang jumlah tenaga kerjanya terbatas.

Untuk itu, solusi pengendalian gulma yang efektif dan efisien adalah dengan menggunakan herbisida.

Herbisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan tumbuhan pengganggu (gulma), seperti rumput, alang-alang dan semak liar. Aplikasi herbisida biasanya ditentukan oleh stadia pertumbuhan tanaman utama dan gulma.

Berikut merupakan pengelompokan herbisida agar sesuai dengan penggunaannya.

Pengelompokan herbisida berdasarkan pertumbuhan gulma.

Herbisida Pratumbuh

Herbisida ini diaplikasikan pada tanah sebelum gulma tumbuh. Semua herbisida pra tumbuh, adalah soil acting herbicide atau herbisida yang diaplikasikan ke tanah dan bersifat sistemik.

Contoh herbisida ini yaitu diuron, bromacil, oksadiazon, oksifluorfen, ametrin, butaklor dan metil metsulfuron.

Herbisida Pascatumbuh

Herbisida ini diaplikasikan saat gulma sudah tumbuh. Semua herbisida pasca tumbuh adalah foliage applied herbicide atau herbisida yang diaplikasikan ke gulma dan bisa bersifat sistemik ataupun non sistemik.

Contoh herbisida pasca tumbuh adalah glifosat, paraquat, glufusinat dan propanil.

Pengelompokan herbisida berdasarkan tipe translokasi dalam tanaman.

Herbisida Kontak (Tidak Ditranslokasikan)

Herbisida kontak mengendalikan gulma dengan cara mematikan bagian gulma yang terkena langsung dengan herbisida. Sifat herbisida ini tidak ditranslokasikan atau tidak dialirkan dalam tubuh gulma.

Contoh herbisida kontak yang bersifat selektif yaitu oksifluorfen, oksadiazon dan propanil. Sementara yang bersifat non selektif seperti parakuat dan glufosinat.

Herbisida Sistemik (Ditranslokasikan)

Herbisida sistemik dapat mematikan gulma melalui translokasi racun ke seluruh bagian-bagian gulma. Herbisida jenis ini dapat diaplikasikan melalui tajuk maupun melalui tanah.

Contoh herbisida yang melalui tajuk yaitu herbisida glifosat, sulfosat dan ester, sedangkan yang melalui tanah yaitu herbisida ametrin, atrazin, metribuzin dan diuron.

Pengelompokan herbisida berdasarkan selektifitasnya.

Herbisida Selektif

Herbisida selektif adalah herbisida yang bersifat beracun untuk gulma tertentu. Contoh herbisida ini yaitu ametrin, diuron, oksifluorfen, klomazon dan karfentrazon.

Herbisida Nonselektif

Herbisida nonselektif adalah herbisida yang dapat mematikan hampir semua jenis tumbuhan termasuk tanaman yang dibudidayakan. Contoh herbisida ini yaitu glifosat dan paraquat.

Dalam memilih herbisida perlu dipertimbangkan terlebih dahulu gulma apa yang akan dikendalikan dan pada tanaman apa yang dibudidayakan.

Contoh herbisida non selektif (glifosat) sering digunakan untuk mengendalikan gulma pada tanaman yang berbatang keras, tanpa olah tanah pada pertanaman jagung, singkong, perkebunan sawit, nanas dan mangga.

Tetapi tidak cocok untuk pengendalian gulma untuk tanaman lunak seperti kebun bunga dan pertanaman padi karena bisa saja tanaman tersebut ikut mati karena herbisida tersebut.

Sementara, herbisida selektif atrazin biasa digunakan pada pertanaman jagung dan tebu, herbisida ini sasarannya pada gulma berdaun lebar dan sempit.

Dari penjelasan di atas, poin penting dalam menggunakan herbisida adalah harus sesuai dengan petunjuk pada label kemasan (pada herbisida kimia) agar tidak menimbulkan kerugian bahkan berefek negatif pada kematian tanaman budi daya. 

Sumber: 8Villages