Blog •  12/10/2020

Pertanian Jagung Modern Naikkan Pendapatan Petani

LAMONGAN – Pertanian jagung modern di Desa Banyubang Kecamatan Solokuro, rupanya tidak hanya sukses menaikkan produktivitas dari yang semula 5,8 ton perhektar menjadi 10,6 ton perhektar. Namun juga bisa meningkatkan pendapatan petani.

Hal itu dijelaskan Bupati Fadeli saat menerima tim dari Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri RI, yang dipimpin Irda Nur Ismi di Guest House Pemkab Lamongan, Senin (6/2).

“Setelah dua kali menerima penghargaan Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha, Lamongan tahun ini kembali masuk nominasi. Yang jika menerima lagi untuk yang ketiga kali, akan meraih penghargaan tertinggi bidang pemerintahan berupa Parasamya Purnakarya Nugraha, “ ungkap Irda menjelaskan alasannya datang ke Lamongan.

Oleh karena itu, Dirjen Otoda Kemendagri ke Lamongan langsung untuk mengetahui program unggulannya. “Kami mendengar Lamongan memiliki program inovatif Gerakan 1821. Namun rupanya ada program inovatif lainnya, berupa pencanangan pertanian jagung modern,“ ujar Irda.

Sementara Bupati Fadeli mengatakan, Kabupaten Lamongan sebenarnya memiliki program unggulan di tiap kategori dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Yakni bidang pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan.

Di bidang kesejahteraan, dia kini tengah fokus memperluas kawasan pertanian jagung yang sudah sukses menaikkan produktivitas jagung menjadi 10,6 ton perhektar. Dari kawasan yang sebelumnya 100 hektar, diperluas menjadi 10 ribu hektar di 12 kecamatan berbeda.

“Kami semakin bersemangat untuk mensosialisasikan pertanian jagung modern kepada petani di luar kawasan percontohan. Karena rupanya dengan menerapkan pertanian modern, pendapatan petani juga naik.

Dengan pertanian konvensional, rata-rata produktivitas di tahun 2016 adalah 6 ton perhektar, dengan pendapatan kotor Rp 22 juta perhektar dan rasio keuntungannya Rp 10 juta perhektar.

Sedangkan jika menerapkan pertanian modern yang sudah dibuktikan hasilnya di Desa Banyubang, petani bisa menaikkan produktivitas menjadi 10,6 ton perhektar dengan pendapatan kotor Rp 36 juta perhketar dan rasio keuntungan yang didapatkan sebesar Rp 23 juta perhektar.

Sumber: surabayaonline.co