Blog •  28/09/2020

Petani Jombang Bermigrasi dari Pola Tanam Konvensional ke Pertanian Modern

SariAgri -  Tahun 2020 menjadi catatan penting bagi ratusan petani desa Gebang kecamatan Plandaan Kabupaten Jombang Jawa Timur. Jika sebelumnya dalam bercocok tanam mereka menggunakan cara lama atau konvensional, maka sejak awal bulan juni 2020 ini, mereka

sudah beralih menggunakan alat mesin pertanian (alsinta).

Melalui alat mesin transplanter ini, seluruh aktifitas penanaman padi menjadi lebih cepat dan efisien. Jika sebelumnya setiap pemilik lahan memperkerjakan 7 hingga 8 orang saat tanam padi, maka dengan menggunakan alat pertanian modern ini, cukup dilakukan oleh 1 atau 2

orang saja. Hal ini secara otomatis akan menurunkan biaya produksi jika dibandingkan dengan cara manual.

“Transplanter ini solusi yang tepat bagi petani disaat buruh tani sulit didapat, tapi perlu diadakan pelatihan bagi petani agar mereka dapat menggunakan transplanter ini dengan baik sehingga mesin ini tidak rendah produktivitasnya” aku Sutiyah selaku penyuluh pertanian

lapangan (PPL) kelompok tani (Poktan) desa Gebang kecamatan Plandaan Kabupaten Jombang kepada SariAgri.

Dengan adanya bantuan alat mesin pertanian transplanter ini, imbuhnya, diharapkan petani dapat memanfaatkan dengan optimal dan mengatasi permasalahan terkait sulitnya tenaga kerja.

Selain itu, perwakilan dari kelompok tani dalam waktu dekata akan dilatih sebagai operator transplanter agar terampil dalam mengoperasikan alat mesin pertanian. Di samping itu menjadi operator transplanter juga dapat dijadikan sumber pendapatan baru bagi petani yang

memiliki skil operasi transplanter.

Berbeda dengan mesin tranplanter jarwo (jajar legowo) yang sistem menjalankannya dengan didorong atau transplanter tipe berjalan (walking type). Maka Mesin transplanter yang satu ini lebih nyaman, karena operator menggendarainya dan mengoperaikannya dari atas seperti layaknya kendaraan atau transplanter tipe mengendarai (riding type).

Melalui mesin transplanter terbaru ini, petani lebih dimudahkan dalam menanam padi. Selain itu mesin transplanter ini dapat memperkirakan jarak yang tepat antar padi untuk tumbuh.

“Alsinta transplanter yang satu ini dirancang dapat menerapkan jarak hingga 20 x 20 cm dibanding jarak tanam yang ditanami oleh alat mesin sebelumnya yaitu sebesar 30 x 30 cm. Jarak tanam dengan transplanter ini akan menghasilkan jarak tanam yang presisi, sehingga

memiliki efek yang baik bagi tumbuhnya padi, “ ujarnya.

Selain itu, meski yang ditanam dalam jumlah lebih banyak, tanaman tetap dapat tumbuh lebih tinggi dan optimal, lebih tahan hama dan mudah dalam perawatan tanaman.

Sedangkan persemaian yang dilakukan dengan transplanter terbaru ini terdapat dua jenis, yaitu bibit disemai di lahan (washed root seedling) dan bibit disemai di dapok. Dalam menggunakan alat transplanter memiliki beberapa persyaratan teknis di antaranya olah tanah

sempurna, lahan macak-macak dan persemaian sistem dapok.

Pada transplanter tipe mengendarai (riding type) sistem pengoperasiannya tidak jauh berbeda dengan tipe operator dorong, yang membedakan hanyalah operator dapat mengendarai mesin tanam sehingga memudahkan dan meringankan operator tanpa harus berjalan. Dalam pengoperasiannya dibutuhkan tenaga pembantu untuk meletakkan benih pada tray ketika saat menanam.

"Mesin ini mampu bekerja dalam waktu yang lebih cepat daripada menggunakan tenaga manusia baik secara manual maupun transplanter dorong. Melalui penggunakan mesin ini, petani malah diuntungkan karena pekerjaan selesai secara lebih efisien dan praktis," paparnya.

Kehebatan mesin transplanter tipe mengendarai ini, tidak perlu diragukan lagi. Selain lebih efektif dari sisi waktu dan efisien dari sisi pengeluaran biaya juga sangat presisi dari segi pola jarak tanaman.

"Jarak yang penanaman yang lebih presisi jika dilakukan dengan transplanter, juga memiliki efek yang baik bagi tumbuhan," tutur perempuan yang mengaku sudah 5 tahun menjadi tenaga PPL.

Meski diakui mempermudah proses produksi padi, namun ia mengaku petani saat ini masih banyak yang bingung tentang cara penggunaannya.

“Bapak-bapak malah sangatlah mudah dalam penggunaannya. Waktunya juga lebih pendek jika menanam dengan alsinta yang baru ini. Bibit padi cukup diletakkan di atas mesin ini. Jika sudah, hanya perlu menjalankan mesin supaya padi tertanam secara otomatis. Cara modern untuk menanam padi ini tentu sangat menghemat waktu dan biaya, “ ucap Sutiyah saat memberi arahan kepada para petani.

Alsinta terbaru ini bahkan diyakini Sutiyah mampu menghemat biaya hingga 50 % dan jumlah bibit tanaman padi yang ditanam bisa lebih banyak dari sebelumnya. 

Sumber:SariAgri