Blog •  2020-01-31

Petani Terancam Gagal Panen, Hama Ulat Grogoti Tumbuhan Jagung di Nusa Penida

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Hama ulat grayak (Spodoptera frugiperda), membuat petani di Desa Bunga Mekar resah.

Mereka terancam mengalami gagal panen, setelah ulat grayak menggerogoti buah jagung petani yang baru berumur 3 minggu.

Tidak hanya di Desa Bunga Mekar, serangan hama grayak ini hampir terjadi di semua wilayah di Nusa Penida.

Perbekel Bunga Mekar I Wayan Yasa mengungkapkan, hama ulat grayak tersebut sudah muncul sejak sebulan lalu.

Saat itu hampir semua tanaman jagung di Desa Bunga Mekar terserang hama ulat grayak, sehingga buah jagung yang baru tumbuh menjadi kerdil.

"Jadi biasanya yang kena hama itu, buah jagung saat berusia sekitar 3 minggu. Ulatnya menggrogoti buah jagung saat masih tunas," ujar Wayan Yasa, Kamis (30/1/2020).

Petani pun sudah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, dan diberikan contoh pestisida untuk membasmi hama ulat itu.

Namun petani setempat sudah pasrah, karena hal itu dianggap sudah terlambat.

"Dibiarkan saja oleh petani, karena menurut mereka sudah terlambat. Meskipun dikasi pestisida, tumbuhan jagung mereka sudah telanjur rusak. Petani pun terancam gagal panen," jelasnya.

Kondisi ini pun tidak hanya terjadi di Desa Bunga Mekar, namun terjadi hampir di desa lainnya di Nusa Penida, seperti di Desa Batukandik dan Batumadeg.

Hama ulat ini, semakin diperparah dengan kemarau panjang yang membuat para petani kian susah bercocom tanam.

"Kemarau panjang juga membuat petani semakin sulit bercocok tanam," jelasnya

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung Ida Bagus Juanida saat dikonfirmasi mengatakan, tanaman jagung di Nusa Penida memang sebagian besar terserang ulat grayak.

Hanya intensitasnya masih tergolong rendah.

“Kami sudah fasilitas untuk penanganannya. Dari hasil penanggulangan yang dilakukan sudah terjadi perbaikan kualitas tumbuh tanaman jagung yang terserang ulat grayak,”terang Juanida.

Adapun tanaman jagung yang mendapat penanganan pasca terserang ulat grayak, yakni Desa Batukandik selias 5 ha dari 60 ha luas tanam, Desa Batumadeg 2 ha dari 40 ha luas tanam, Desa Bungmekar 2 ha dari 45 ha luas tanam, dan Desa sakti 1 ha dari 16 ha luas tanam.

" Munculnya hama ulat grayak disebabkan karena faktor intensitas hujan yang cukup rendah di Nusa Penida," terang Juanida.

Sumber : TRIBUN-BALI