Blog •  18/05/2021

Peternak Ayam Keluhkan Harga Jagung

RADAR BOGOR – Para peternak ayam petelur harus berjuang lebih keras untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Sampai sekarang, biaya pokok produksi (BPP) terus membengkak. Penyebabnya adalah kelangkaan pakan ternak.

Di sisi lain, mereka tidak bisa sembarangan menaikkan harga jual karena permintaan pasar belum stabil.

Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Blitar Rofiyasifun menjelaskan, harga telur di tingkat peternak berkisar Rp 17.500 hingga Rp 18.000 per kilogram.

Harga itu lebih tinggi ketimbang saat Lebaran. ”Saat Lebaran, harga on-farm mencapai Rp 16.500 sampai Rp 17.500 per kilogram. Baru naik saat H+3,’’ ungkapnya kemarin (17/5).

Namun, kenaikan harga tersebut tidak menguntungkan para peternak ayam petelur.

Sebab, BPP sudah naik menjadi Rp 22.500 per kilogram. Artinya, mereka harus menanggung selisih kerugian Rp 3.000–Rp 4.000 per kilogram.

Kondisi yang sudah berjalan selama lima bulan itu didorong kelangkaan jagung di wilayah Blitar dan sekitarnya.

Padahal, peternak ayam petelur di Blitar, Tulungagung, dan Kediri berkontribusi 30 persen terhadap produksi telur nasional. ’’Kelangkaan ini penting bagi kami. Sebab, 50 persen pakan ayam adalah jagung,’’ jelasnya.

Karena langka, harga jagung naik menjadi Rp 6.000 per kilogram. Padahal, harga normal jenis jagung pakan ternak adalah Rp 4.500 per kilogram.

Meski BPP membengkak, peternak tidak bisa menaikkan harga jual produk mereka.

Sebab, permintaan telur belum normal. Menurut Rofiyasifun, pemesanan dari agen telur besar masih lesu. Padahal, agen besar biasanya menyerap 70 persen dari total produksi para peternak. Agen besar biasanya menyalurkan telur ke industri, pasar modern, dan ritel.

’’Yang menjadi masalah, beberapa agen membeli telur infertil untuk dicampur dengan telur peternak. Jelas kami kalah karena mereka menjual dengan harga Rp 500 per butir dan kami tiga kali lipatnya,’’ keluh Rofiyasifun.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur Hadi Sulistyo sudah berkoordinasi dengan petugas di lapangan tentang kondisi tersebut.

Menurut dia, hasil panen pada Februari dan Maret sebenarnya sudah mencukupi kebutuhan pasar. Harga rata-rata jagung pipilan kering pada tingkat petani saat ini mencapai Rp 5.250 per kilogram. Namun, harga itu kemahalan bagi peternak.

Hadi mengungkapkan, momen hari raya juga memicu kenaikan permintaan dari pabrik pakan. Bahan baku itu dijadikan stok. Kebijakan penyekatan selama hari raya juga memperlambat distribusi.

Apalagi, pengepul cenderung menahan barang di gudang karena biaya distribusi di pasar naik.

’’Rupanya, permasalahan bukan di pasokan. Melainkan, besarnya biaya angkut dari sumber ke lokasi peternakan,’’ terangnya.

Sumber: RADAR BOGOR