Blog •  21/09/2020

Realisasi Program Tanam Jagung Panen Sapi di Belu Capai 52 Hektare

© POS-KUPANG.COM/TENI JENAHAS
© POS-KUPANG.COM/TENI JENAHAS

POS-KUPANG.COM| ATAMBUA----Realisasi Program Tanam Jagung Panen Sapi ( TJPS) di Kabupaten Belu sudah mencapai 52 hektare dari target luasan tanam 220 hektare.

Realisasi program Pemerintah Provinsi NTT ini tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Belu, satu diantaranya di Ainiba seluas 20 hektare.

Hal ini dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Belu, Gerardus Mbulu kepada wartawan, Minggu (20/9/2020). Menurut Gerardus, di tahun 2020, Pemerintah Kabupaten Belu menargetkan luasan tanam jagung 404 hektare, rincian untuk program TJPS seluas 220 hektare, realisasi mencapai 52 hektare.

Sedangkan program tanam jagung swadaya yang dilakukan petani ditargetkan 184 hektare, realisasi sampai saat ini 54 hektare.

"Untuk program TJPS realisasi sudah 52 hektare kemudian swadaya masyarakat sendiri sudah mencapai 54 hektare", kata Gerardus.

Lebih lanjut, Gerardus mengatakan, pelaksanaan program TJPS menyebar di delapan kecamatan yakni, Kecamatan Tasifeto Timur seluas 75 hektare, Kakuluk Mesak 13 hektare, Lamaknen 8 hektare, Raihat 81 hektare, Lasiolat 10 hektare, Raimanuk 15 hektare, Tasifeto Barat 17 hektare, serta Atambua Selatan 1 hektare.

Luas lahan setiap kecamatan berbebeda-beda karena bergantung pada ketersedian air. Seperti Tasifeto Timur seluas 75 hektare dan Raihat 81 hektare karena dua daerah ini memiliki kecukupan air.

Kemudian, seperti Ainiba, Desa Fauketi mencapai 20 haktare karena daerah ini didukung ketersedian air. Wilayah Ainiba mendapat pasokan air dari Bendungan Rotiklot yang telah mendapat izin dari Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara.

Kadis Gerardus merasa bersyukur atas upaya Bupati Belu, Willybrodus Lay yang melakukan koordinasi dengan Kementerian PUPR dan akhirnya kementerian memberikan izin pakai air Bendungan Ritoklot.

Khusus di Ainiba, pemerintah melaksanakan program TJPS tahap awal seluas 20 hektare. Jika semuanya berhasil, akan ditambah lagi luas lahan.

"Di Ainiba, kami realisasi program TJPS seluas 20 hektare. Jika semuanya berhasil pada tahap pertama ini, maka kami akan meningkatkan luas lahan untuk TJPS yang kedua," kata Gerardus.

Ditanya mengenai kendala pelaksanaan program TJPS, Gerardus mengaku, kendala utama adalah

ketersedian air yang tidak mencukupi akibat minimnya curah hujan.

Para petani tidak berani mengambil resiko tinggi terhadap ancaman kekeringan sehingga hanya menanam sesuai dengan ketersediaan air.

Sumber: POS-KUPANG