Blog •  02/06/2020

Siap Hadapi Kemarau, Petani Bisa Tiga Kali Tanam dalam Setahun

© 2018 Merdeka.com
© 2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Dalam rangka mengantisipasi dampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini, Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan kebijakan dan strategi mitigasi. Kementan mendukung para petani membuat sumur bor dan mesin pompa air guna memenuhi kebutuhan air di lahan pertaniannya.

Dikutip dari Liputan6.com, strategi pompanisasi dan pipanisasi terbukti memiliki sumbangsih besar dalam meningkatkan produksi hasil pertanian. Sebagaimana disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo.

Bisa Tiga Kali Tanam dalam Setahun

"Contoh paling nyata dukungan Kementan untuk petani saat ini adalah pembangunan sumur bor dan mesin pompa air, sebagai strategi pompanisasi dan pipanisasi. Ini berdampak langsung pada peningkatan produksi, dari tanam satu kali menjadi tiga kali tanam setahun meskipun di tengah ancaman kekeringan," kata Mentan Syahrul Yasin Limpo, seperti dilansir Liputan6.com (10/5).

Berdasarkan penjelasan Mentan Syahrul, strategi pompanisasi dan pipanisasi yang diterapkan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) sebagai langkah mitigasi kekeringan sudah efektif. Hasilnya di tengah ancaman kekeringan petani tetap bisa bercocok tanam.

Selain bisa meningkatkan masa tanam menjadi tiga kali dalam satu tahun, strategi pompanisasi dan pipanisasi juga bisa menghemat anggaran negara.

Keberlanjutan Produk Pertanian

Keberlanjutan produk pertanian dipengaruhi oleh berbagai faktor. Antara lain iklim, sumber daya, teknologi, pemasaran, dan manusia sebagai pelaku usaha. Tugas Kementan adalah menjaga keharmonisan dari semua faktor yang berpengaruh terhadap produk pertanian. Salah satu misi dari keberadaan Kementan di Indonesia adalah menjaga ketahanan dan keberlanjutan pangan nasional.

Langkah antisipatif yang dilakukan Kementan untuk menghadapi puncak kemarau pada Agustus dan September 2020 selain menyiapkan pompanisasi dan pipanisasi di daerah-daerah yang rawan kekeringan, juga mendorong penggunaan bibit padi yang cocok untuk lahan kering.

Bantuan untuk Petani

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy mengatakan, pihaknya siap membantu menyediakan infrastruktur yang diperlukan daerah-daerah rawan kekeringan. Yakni dengan menyediakan paket bantuan untuk petani.

"Pertama adalah pompanisasi dan pipanisasi. Bantuan tersebut digunakan untuk menarik air dari sumber-sumber yang ada, baik dari sungai maupun mata air," ujar Sarwo Edhy, seperti dilansir Liputan6.com (10/5).

Petani serta Dinas Pertanian setempat juga harus bersinergi mengantisipasi kekeringan dengan mengawal gilir giring irigasi, penanganan illegal pumping, serta sosialisasi dalam mematuhi jadwal tanam.

Program Asuransi Usaha Tani Padi

Program Kementan lainnya adalah menyediakan pembangunan embung. Program ini berguna sebagai bank air untuk menampung air di musim hujan. Air yang tertampung di embung bisa dialirkan ke sawah ketika musim kemarau tiba.

Kementan juga memfasilitasi pembangunan sumbur bor di lahan-lahan pertanian yang mengalami kekeringan.

"Sumur bor ini dalamnya bisa mencapai 60 meter. Ini juga cukup membantu dalam mengatasi kekeringan," jelas Sarwo Edhy.

Selanjutnya, petani diimbau untuk ikut program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Melalui program asuransi ini, petani yang lahan padinya mengalami kekeringan sampai 70 persen bisa mendapat ganti rugi Rp 6 juta per hektare per musim.

Sumber: Merdeka