Blog •  10/01/2022

Sumbar Targetkan Ribuan Hektare Lahan Tidur Ditanami Jagung

© Bisnis/Noli Hendra
© Bisnis/Noli Hendra

Bisnis.com, PADANG - Pemerintah Provinsi Sumatra Barat menargetkan luas tanaman jagung terus bertambah di tahun 2022 ini. Setidaknya ada ribuan hektare lahan tidur yang bisa dikelola menjadi tanaman jagung.

Gubernur Sumbar Mahyeldi dalam kegiatan launching Minang Agro Perdana di Padang, mengatakan, kebutuhan jagung di Sumbar per bulannya itu mencapai 600 ton. Selama ini produksi jagung Sumbar dapat dikatakan sekitar 1 juta ton, artinya Sumbar masih minus 200 ton jagung.

"Saya telah menugaskan kepada Dinas Tanaman Pangan untuk bergerak mengajak petani mengolah lahan tidur menjadi tanaman jagung. Akan ada bantuan bibit dan pupuk yang disediakan. Jadi kelompok tani ajukan saja," katanya, Minggu (9/1/2022).

Pada kesempatan kegiatan Minang Agro Perdana itu, Mahyeldi menyebutkan salah satu perusahaan yang cukup besar menampung jagung di Sumbar ini yakni Rajawali Group.

Sekarang dengan adanya Minang Agro Perdana, secara tidak langsung Rajawali Group yang merupakan distributor pakan ternak yang berkiprah selama 26 tahun itu, menjadi salah satu perusahaan yang menjadi mitranya petani jagung khususnya.

Karena Rajawali Group itu telah mengembangkan usaha ke sektor peternakan dan pembesaran ayam dara petelur (pullet) 4 provinsi, diantaranya Sumbar, Sumut, Riau dan Jambi.

Menurutnya, dengan kerjasama dan sinergitas antar provinsi, Sumbar bisa mensupply baik pakan maupun ternak ke provinsi lain, demikian juga dengan kebutuhan di Sumbar dapat di supply oleh provinsi lain.

"Tidak ada prioritas lain jika kita ingin maju, kita harus saling bekerja sama dengan provinsi tetangga, maju bersama," ujar gubernur.

Untuk itu, Pemprov mendukung penuh pemanfaatan lahan tidur, maupun pembukaan lahan baru hingga mencapai target seluas 1.600 hektare, mengingat tingginya kebutuhan pakan ternak, terutama jagung.

"Kita mendukung penuh perluasan lahan untuk budidaya jagung, termasuk peningkatan produksinya. Ke depan kita akan gunakan bibit yang lebih unggul dan metode menanam yang lebih baik untuk mengejar produksi," tambahnya lagi.

Sementara dari segi pasar, menurut Mahyeldi kebutuhan pakan bisa mencapai 50 juta ton per tahun. Demikian juga dengan masyarakat Sumatera Barat dimana 57% warga bergerak di sektor pertanian.

""57% persen warga bergerak di sektor pertanian, ini adalah perhatian utama Lagipula tujuan utama sektor peternakan dan pertanian kembali lagi adalah kesejahteraan petani," tegas gubernur yang juga alumni fakultas pertanian ini.

Direksi Rajawali Group H Yasril Islami menyampaikan bahwa Minang Agro Wisata bertujuan untuk memenuhi kebutuhan jagung sebagai pakan ternak yang mencapai hingga 600 ton setiap hari nya.

Sebagai langkah awal perusahaan ini telah membuka 50 hektare lahan budi daya Jagung di Tiku, dengan target lahan mencapai 500 hektare di tahun 2025.

"Kita mendukung program pemerintah dalam memanfaatkan lahan tidur untuk budi daya jagung, karena dari perspektif swasta, kita juga memandang kebutuhan pakan yang tinggi sangat penting untuk dipenuhi," ujar Yasril

Di samping itu Bambang Sutrasno, GM Charoen Pokphand Indonesia Medan yang turut hadir juga menyampaikan dukungannya untuk turut serta mengembangkan peternakan di Sumbar.

"Pengembangan budi daya jagung sangat tepat mengingat Sumbar sebagai lumbung ayam petelur maupun ayam ternak, bahkan saat ini Sumbar menduduki peringkat kelima dari segi populasi ayam dengan 16 juta ekor. demikian juga sebagai penghasil telur di tingkat nasional," ungkap Bambang.

Sementara itu, menanggapi soal pemanfaatan lahan untuk tanaman jagung, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar Syafrizal mengatakan untuk produksi jagung di Sumbar memang belum begitu besar.

Seperti terlihat pada tahun 2020 lalu produksi jagung ada sebanyak 935.716 ton atau masih kurang dari target produksi yang mencapai 995.201 ton, dan artinya 59.465 ton produksi jagung tidak bisa dicapai sepanjang tahun 2020.

Melihat realisasi dari target produksi yang hanya 94,02 persen, maka untuk tahun 2021 target produksi jagung di Sumbar tidak jauh berbeda dengan tahun 2020.

"Produksi kita masih belum begitu banyak. Bicara kebutuhan, di Sumbar ini kebutuhan jagungnya 1,2 juta ton. Sementara produksi kita baru 1 juta ton, dan artinya minus 200.000 ton, yang kurang itu kita pasok dari Lampung," sebut pria yang akrab disapa Jejeng ini.

Diakuinya bahwa selama ini produksi jagung di Sumbar ada yang tak sampai 1 juta ton per tahunnya. Kendati kebutuhan jagung di Sumbar tidak mencukupi dari produksi yang ada, namun dari Pemprov Sumbar akan lebih serius untuk menggerakan pengelolaan lahan tidur.

"Solusi untuk menggenjot produksi jagung lebih besar. Perlu untuk menggerakkan masyarakat untuk mengelola lahan tidur untuk dijadikan lahan perkebunan jagung," sebutnya.

Menurutnya tanaman jagung termasuk tanaman yang tidak begitu sulit untuk dilakukan perawatannya. Artinya selagi ada tanah, maka biji-biji jagung yang jadi bibit itu akan tumbuh.

Untuk bertanam jagung pun tidaklah terlalu sulit, sehingga ada harapan sebenarnya untuk menambah produksi jagung di Sumbar di masa mendatang.

Hanya saja, ada juga petani yang masih tidak memahami potensi bertanam jagung tersebut. Hal ini dikarenakan petani di Sumbar masih menilai bertanam padi lebih menjanjikan, sementara jagung belum begitu banyak petani yang paham soal penghasilannya.

"Petani ini hitung-hitungan ekonomi sangat kuat. Mereka mengkaji cara perawatannya, biaya yang akan dikeluarkan, hingga biaya panen, serta harga jual. Nah di Sumbar, belum semua petani memahami ini," ujar dia.

Untuk itu, dengan adanya regulasi pemanfaatan lahan tidur nantinya, pemerintah berharap produktivitas jagung di tahun 2021 bisa lebih banyak dan dapat memenuhi kebutuhan jagung di Sumbar yang mencapai 1,2 juta ton per tahunnya.

Di Sumbar, petani jagung tersebar di Kabupaten Pasaman Barat, Pasaman, Dharmasraya, Pesisir Selatan, Sijunjung, dan sedikit di Kabupaten Solok Selatan.

Jejeng menyatakan dari yang di amatinya, ada 200 ribu hektare lahan tidur di Sumbar yang masih potensi untuk dikelola. Di Padang Pariaman misalnya, ada lahan perkebunan kelapa yang layak untuk ditanami jagung.

Begitu juga soal lahan sawah tadah hujan, daripada turun ke sawah hanya menunggu hujan turun, maka pengelolaan lahan sangat tidak produktif. Untuk lahan seperti itu, sebaiknya bisa diarahkan ditanami jagung.

Dia optimis, bila lahan tidur di Sumbar yang kini mencapai 200.000 hektare itu dikelola khususnya untuk tanaman jagung, Sumbar tidak bakalan lagi kekurangan kebutuhan jagung, seperti yang dialami selama ini.

Menurutnya bila 200.000 hektare lahan tidur itu memproduksi jagung, jangankan untuk memproduksi 1,2 juta ton per tahun, produksi jagung di Sumbar bisa mencapai 2 juta ton lebih.

"Itu kalau benar-benar lahan 200.000 hektare itu dikelola, dan kalau itu benar terwujud. Sumbar bakal surplus jagung," sebutnya.

Sumber: Bisnis