Blog •  19/10/2020

Tak Risau Pupuk, Panen Bisa Dua Kali Lipat

© MOCH. DIDIN SAPUTRO/ JP Radar Kediri
© MOCH. DIDIN SAPUTRO/ JP Radar Kediri

Bila lahan sudah benar-benar organik, hasil menggiurkan ada di depan mata. Tak butuh pupuk dan pestisida kimia. Namun ketika panen hasilnya melimpah. Permintaan pun terus berdatangan.

Mengapa bertahan di sistem pertanian organik? Ali Maksun, petani padi organik asal Desa Kencong, Kecamatan Kepung punya jawabannya. Dia mengatakan salah satu hal yang mendasari adalah proses awal dia mengenal sistem ini. Yakni ketika sakit lambung. Saat itu ada yang mengajak budidaya padi dengan sistem organik. Dan setelah ia mengonsumsi itu ternyata berpengaruh pada tubuhnya.

“Sakitnya berkurang, ternyata memiliki efek bagi kesehatan,” ujarnya.

Itu yang jadi salah satu alasannya. Meski pada awal pengembangan hasil yang didapat tak seberapa. Hasil sedikit itu tak menyurutkan Maksun konsisten pada pengembangan sistem pertanian ramah lingkungan ini.

Banyak keuntungan yang dia rasakan selama terjun di pertanian organik. Seperti saat kelangkaan pupuk seperti sekarang ini. Ketika banyak petani yang bingung karena sulit mencari pupuk, tidak demikian bagi petani organik.

“Kami tidak memikirkan pupuk. Karena organik ini apa yang ada di sekeliling kita, maka kita manfaatkan,” ungkap guru MTs Taufiqiatul Asna Bukaan, Keling tersebut.

Seperti yang saat ini diterapkan oleh Agus Santoso, rekan petani organik di desanya. Dia menggunakan pelepah pisang sebagai bahan pupuk organik. Sementara Maksun, berbeda bahan, menggunakan kartok atau tumbuhan liar untuk bahan pupuk organiknya. “Alhamdulillah ada keberhasilan. Tanaman juga bagus,” tambahnya.

Tak hanya mengandalkan pupuk organik. Salah satu yang membuat sehat adalah tak adanya pestisida kimia. Selama ini petani organik memanfaatkan musuh alami. “Musuh alami masih banyak yang hidup. Sehingga ekosistem terjaga, rantai makanan pun tetap berkesinambungan,” jelas Maksun.

Memang, untuk biaya produksi, ia mengaku pertanian organik lebih tinggi. Namun itu sebanding dengan hasil penjualan beras organik yang jauh lebih tinggi dari beras biasa. “Bisa dua kali lipat,” ungkap Maksun.

Ditanya apakah ia tetap konsisten di pertanian organik ini? Maksun mengaku akan tetap mempertahankannya. Karena menurutnya dengan bertani organik lebih banyak untungnya dibanding non-organik.

Seperti halnya Agus Santoso, karena sudah terbiasa melakukan cocok tanam dengan sistem organik, Agus mengaku hampir tak menemui kendala berarti saat budidaya. Hanya ada beberapa hama yang menyerang. Seperti tikus dan burung. Namun itu masih bisa ditoleransi dan dikendalikan. “Sementara kendala yang lain-lain tidak ada sama sekali,” tandasnya.

Justru menurutnya pertanian organik ini banyak kelebihan dibandingkan kendala atau kekurangan. Salah satunya adalah dalam hal pengairan. Apalagi di saat musim kemarau seperti ini. “Kami berani pengairan hingga 15 hari,” ujarnya. Itu jauh lebih efisien dibandingkan pertanian padi konvensional yang satu minggu sekali melakukan pengairan.

Agus mulai mencoba pertanian organik sejak 2010. Bersama rekannya, Ali Maksun. Baginya, bertani organik ini perlu waktu dan proses. Termasuk melihat kondisi lahan. Apabila lahan itu bagus dan sehat, tak perlu waktu lama untuk mengembangkan pertanian organik. Satu sampai dua tahun sudah bisa dikatakan organik. “Tapi kalau tanahnya memang sakit atau rusak, bisa jadi sampai 5 tahun dikatakan organik,” ujarnya.

Sumber: Radar Kediri