Blog •  10/11/2021

Waspadai Serangan Ulat Grayak Jagung dan Uret

Something went wrong. Please try again later...

RADAR JOGJA – Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul berupaya mengamankan produksi jagung dari ancaman serangan organisme pengganggu tumbuhan, salah satunya hama ulat grayak pada jagung. Karena dapat menyebabkan kehilangan hasil pada produksi, langkah antisiapasi dini telah dilakukan salah satunya dengan melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang serangan hama tersebut.

“Kami upayakan jangan sampai muncul serangan hama ulat grayak di Gunungkidul,” kata Sekretaris DPP Gunungkidul Raharjo Yuwono saat dihubungi Senin (8/11). Ulat grayak dengan nama latin Spodoptera frugiperda atau fall army worm itu merupakan hama invasif penting yang menyerang tanaman jagung. Hama ini patut diwaspadai, terutama pada saat awal musim penghujan seperti sekarang. Pihaknya bersyukur hasil pemantauan yang dilakukan belum ditemukan adanya kasus serangan hama ulat grayak pada jagung. “Kami juga belum menerima laporan dari petani soal itu,” ucapnya.

Seperti diketahui, pada serangan awal ulat memakan lapisan epidermis daun. Pada serangan lanjutan, larva memakan daun-daun hingga ke pucuk tanaman serta terlihat lubang-lubang pada daun jagung. Selanjutnya pada tingkat serangan yang tinggi, dapat ditemukan kotoran dari larva pada tanaman jagung seperti serbuk gergaji.

Selain menyerang daun, ulat grayak juga dapat menyerang tongkol jagung. Jika tingkat serangan tinggi, petani harus melakukan pengendalian kimiawi dengan insektisida, namun digunakan secara bijaksana dan hindari penggunaan berspektrum luas.”Jika pemakaian berlebihan justru bisa berdampak pada tanaman pangan yakni, penurunan hasil produksi dan pencemaran lingkungan,” ujarnya.

Selain ulat grayak, hama uret dan tikus juga harus diwaspadai. Serangan uret pernah terjadi meskipun prosentase serangan hama masih kecil. Sebagai gamabran, di awal 2019 total luas lahan padi gogo 4.8628 hektare dan laporan masuk adanya serangan hama uret tidak lebih dari dua persen. “Serangan hama uret masih spot-spot,” terangnya.

Disinggung mengenai upaya penanggulangan serangan hama uret dan tikus, pihaknya siap menindaklanjuti dengan menerjunkan petugas ke lapangan. Selain itu, dinas juga akan membagikan pestisida gratis kepada petani yang membutuhkan. Jenis hama tikus, petani diimbau agar pengendalian hama dilakukan dengan prosedur ramah lingkungan. Salah satunya dapat dilakukan secara mekanis. “Dengan metode gropyokan atau dengan teknik emposan,” ungkapnya.

Sementara itu, seorang petani palawija di Kapanewon Patuk Sularto beberapa waktu lalu sempat mencoba tanam jagung. Namun gagal panen karena bagian batang dan daun tba-tiba menguning dan kerdil.”Tanamnya tidak banyak. Berbeda dengan tanaman sawi, hasilnya cukup lumayan namun sempat diserang belalang,” kata Sularto.

Sumber: RADAR JOGJA