Blog •  31/03/2020

Beberapa Wilayah di Indonesia Masih Eksis Panen Jagung

© Foto: SAIFUL BAHRI/ANTARA FOTO
© Foto: SAIFUL BAHRI/ANTARA FOTO

REPUBLIKA.CO.ID, KARO -- Meskipun bulan Oktober 2019 lalu curah hujan masih rendah, namun  tak menyurutkan semangat petani di Indonesia untuk bertanam jagung. Beberapa wilayah seperti di Sulut, Sumut, Jatim, Gorontalo dan Jateng masih aktif tanam jagung rata-rata sekitaran 200 ribu hektare. Hasilnya saat ini dibulan Januari sedang panen pada beberapa daerah tersebut.

Apa yang dikhawatirkan bahwa harga jual jagung naik karena barangnya langka ternyata tidak terbukti. Nyatanya dari laporan petugas informasi pasar yang berada di kabupaten masih menunjukkan rata-rata harga jagung di kisaran Rp 4.000 dengan kadar air 17 persen atau jagung yang sudah dikeringkan manual dengan sinar matahari selama 3-4 hari.

Contohnya di Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara, dilaporkan oleh Berti, petugas PIP Kabupaten Karo, harga jual jagung tingkat petani sebesar Rp. 3.900 dengan kadar air antara 25-30 persen atau jagung pipilan panen dan belum dikeringkan. Adapun jumlah lahan di Kabupaten Karo sudah siap panen seluas 9.000 hektare. Jumlah luas panen ini merupakan terbesar kedua pada masa tanam ketiga pada tahun 2019.

Hal sama disampaikan oleh Petugas Pelayanan Informasi Pasar dari di Kabupaten Bireun Provinsi Aceh, Deny bahwa harga jual jagung dari petani sebesar Rp 4.100 dengan kadar air 16 persen, harga jual jagung ini dinilai berada pada kisaran yang wajar dan tidak menunjukkan adanya kelangkaan jagung yang berarti di pasaran. Saat ini Bireun sedang masuk masa panen raya jagung dengan luas panen sebesar 6.000 hektare.

Di tempat terpisah Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Suwandi membenarkan bahwa harga jagung masih stabil. Jadi bisa dilihat harga jagung di tingkat petani masih aman berada di bawah harga Rp 4.600. Saya kira masyarakat tidak perlu kawatir karena ketersediaan jagung di lapangan masih bisa mencukupi kebutuhan jagung di Indonesia.

Seperti yang disampaikan Mentan Syahrul Yasin Limpo meskipun cuaca ekstrem mempengaruhi pertanian, namun begitu tidak signifikan mengganggu produksi. Bahkan Kementan telah melakukan langkah antisipatif dan responsif.

Suwandi pun meyakinkan untuk mengamankan produksi, apalagi saat ini sudah memasuki musim tanam maka Kementan mulai mengejar tanam bulan Januari ini. "Kita kumpulkan semua Dinas Pertanian Kabupaten untuk bergerak bersama mulai kejar tanam bulan ini," ujarnya.

Terkait laporan harga, dikatakan Suwandi laporan yang ada saat ini sifatnya realtime karena tiap hari diinput lewat aplikasi harga tani. "Jadi kami ada petugas di 245 kabupaten yang tiap hari melaporkan harga komoditas tanaman pangan," ujarnya.

Menurut Suwandi langkah ini sebagai upaya monitoring Kementan terhadap fluktuasi harga di lapangan. "Kalau kita tahu secara riil bisa sebagai langkah untuk mengantisipasi gejolak harga," sebutnya.

Sumber : REPUBLIKA