Blog •  10/11/2020

Jagung di Musim Asep : Bisa

POS-KUPANG.COM - Fakta Kembali, Jumat 30 Oktober 2020 Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) memanen jagung di Desa Pariti Kecamatan Sulamu dan Desa Poto Kecamatan Fatuleu Barat. Kedua desa ini bersama desa-desa yang masuk dalam Program TJPS ( Tanam Jagung Panen Sapi) lainnya yang tersebar pada enam belas kabupaten di NTT yang menanam jagung di musim kedua atau periode April-September ( ASEP) 2020 dalam hitungan musim tanam atau dikenal juga musim kemarau (MK).

Desa-desa yang lain sudah panen misalnya di Manggarai Barat, Belu dan Malaka, serta akan diikuti desa-desa lainnya yang juga telah siap panen. Tanam jagung di musim kedua atau MK bisa, kenapa tidak?

Sesungguhnya untuk wilayah NTT, ketika musim hujan terkadang mengalami gangguan, sebut saja kekeringan, keterlambatan datangnya hujan, eratik dan menyebabkan banjir, maka menanam jagung dimusim kemarau harusnya lebih pasti karena dapat dikontrol terutama faktor air.

Beberapa data terbaru tentang kinerja usaha tani jagung NTT (Mullik, dkk 2020) kiranya perlu ditampilkan; rata-rata luas lahan yang digarap untuk menanam jagung 0,8 ha per petani, terdiri atas 1-2 parsil.

Jumlah anggota tiap rumah tangga tani berkisar antara 4-6 orang dan memiliki 2-3 orang tenaga kerja produktif. Tenaga kerja produktif adalah anggota keluarga yang bekerja di pekerjaan usaha tani maupun non usaha tani, bekerja dalam rumah maupun luar rumah yang bertujuan mendapatkan pendapatan uang.

Dari komposisi keberadaan tenaga kerja produktif, luas tanam dan parsil serta ada pekerjaan selain usaha tani jagung, juga pekerjaan non pertanian termasuk kegiatan sosial kemasyarakatan, maka praktis perhatian petani ke usaha tani jagung tidak optimal.

Produktivitas jagung tingkat petani baru mencapai 1,32 ton/ha. Rata-rata kebutuhan jagung untuk tiap rumah tangga tani mencapai 0,64 ton/KK/tahun, yang terdiri atas 0,37 ton untuk pangan dan 0,26 ton untuk pakan.

Adanya sumber daya lahan, tenaga kerja, produktivitas yang masih rendah yang dapat ditingkatkan melalui intensifikasi dan perluasan areal, serta fenomena konsumsi jagung yang relatif rendah, maka mendorong produksi jagung lebih tinggi untuk tujuan komersial berpeluang besar untuk dikerjakan. Salah satu jalan melalui menanam di musim kedua.

Ini suatu "Peradaban Baru", kata Gubernur VBL di suatu kesempatan. Petani kita selama ini selesai panen jagung yang ditanam di musim hujan (MH) periode Oktober Maret (OKMAR) selanjutnya lahan dan sumber daya lainnya dibiarkan.

Dengan menanam double musim, pasti akan memberikan pendapatan bagi keluarga sepanjang tahun, menjaga ketahanan pangan rumah tangga, serta mendistribusi risiko karena sumber pendapatan rumah tangga berlapis.

Ada yang salah ketika petani NTT menanam jagung dua kali setahun dalam luas lahan tertentu layaknya menanam jagung seperti biasa periode musim hujan? Tidak sama sekali. Namun menanam jagung musim kedua harus lebih hati-hati terutama; (a) dalam memilih lahan yang akan ditanam.

Lahan utama yang akan dijadikan lahan jagung musim kemarau yaitu lahan yang dekat dengan sumber air, misalnya kali, embung atau aliran sungai, juga lahan yang telah memiliki sumur.

Dengan demikian memanfaatkan semua sumber daya yang ada akan memberikan kebaikan dan kesejahteraan bagi petani dan masyarakat umumnya, (b) serangan hama penyakit juga relatif tinggi.

Saat ini masih terdapat hama ulat grayak (FAW) dan belalang pada beberapa wilayah. Pengendalian hama penyakit secara terpadu akan memberikan hasil yang optimal, dan (c) pemasaran dan harga jual yang memberi semangat pada petani untuk berusaha tani jagung.

Tantangan

Karena suatu tata cara, kebiasaan baru, maka banyak permasalahan dan kendala yang dihadapi. Inovasi dan teknologi sudah banyak tersedia, siap untuk diimplementasi, namun hal yang paling berat adalah internal dalam diri semua pelaku kegiatan.

Petani misalnya, belum terbiasa untuk bekerja di musim kemarau, menjadi tantangan tersendiri. Mengajak dan memberikan motivasi bagi petani harus terus menerus dilakukan.

Dari semua tantangan yang dihadapi, persoalan merubah cara pikir (mind set) dan orientasi usaha merupakan poin yang dianggap cukup berat. Pada wilayah tertentu, jangankan menanam jagung di musim kedua, menanam jagung saja dianggap "tabu" karena pasti tidak akan berhasil.

Pola pikir seperti ini harus diubah, bahwa untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, tidak lain dan tidak bukan harus memanfaatkan sumberdaya yang ada secara optimal.

Permasalahan penting kedua, adanya ternak lepas terutama sapi.

Pada wilayah tertentu misalnya di datar Bena, Kabupaten TTS setelah panen padi Musim Tanam I (musim hujan), maka lahan pertanian menjadi lahan penggembalaan sapi.

Sapi dilepas dan mencari makan sisa-sisa panenan dan rerumput yang ada. Juga pada wilayah lainnya misalnya di TTU, Belu, dan Malaka serta seluruh Sumba, musim kemarau adalah musim melepas sapi untuk mencari makan pada lahan bekas sawah atau ladang.

Pada kondisi ini tanaman yang ditanam di musim kedua harus diberi pagar (istilahnya tanaman dikandangkan). Persoalan ini juga menjadi penting untuk dibahas bersama baik secara lokal (desa dan kecamatan) juga sampai tingkat kabupaten dan provinsi, bagimanapun usaha ternak dan tanaman harus berjalan, hidup bersama memanfaatkan sumberdaya yang ada.

Kendala lain adalah pada musim kemarau biasanya debit air menurun cukup besar, sehingga harus benar diperhitungkan luas lahan yang akan ditanam sesuai perkiraan sisa air pada puncak kemarau.

Jagung sesungguhnya tergolong tanaman yang tidak membutuhkan air yang banyak. Pemberian air pada periode penting dalam siklus hidup jagung sudah cukup untuk memperkirakan akan mendapatkan hasil.

Multiplier Effect

Memperkenalkan cara baru ke petani bahwa sesungguhnya dengan tersedianya lahan, air, serta sarana produksi, misalnya benih unggul, pupuk, pestisida maka petani lahan kering dapat meningkatkan indeks penanaman (IP) dari satu kali menanam menjadi dua kali akan membuka kesempatan bekerja dan peluang berusaha di suatu wilayah.

Indeks penanaman (IP) yang awalnya satu kali, menanam di musim hujan saja meningkat menjadi dua kali akan memberikan tambahan kekuatan ketahanan pangan keluarga dan akan meningkatkan peluang mendapatkan uang dari penjualan jagung. Misalnya dalam konteks TJPS petani berpeluang membeli sapi atau ternak lainnya, memanfaatkan by product jagung untuk diolah menjadi pakan.

Disamping menanam jagung, juga terbuka kesempatan berusaha tani lain, karena memiliki daya kreativitas untuk menamam jenis tanaman lainnya.

Dampak lainnya yaitu terbukanya kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Apabila usaha tani jagung dilakukan dua kali, maka terbuka kesempatan untuk menyerap tenaga kerja misalnya tenaga kerja untuk mengolah lahan, sewa traktor, mengupah tenaga kerja tanam, menyiang gulma, dan panen.

Terbukanya kesempatan berusaha karena misalnya dalam menangani pasca panen dan pemasaran jagung. BUMDES dapat berperan dalam mengumpulkan hasil dari petani dan menjual ke off taker.

UMKM yang bergerak dipengolahan hasil jagung (membuat beras jagung, tepung dari jagung, olahan hasil jagung lainnya) juga bertumbuh.

Satu hal lagi, kini Pemerintah Provinsi NTT mendorong investor untuk membangun pabrik pakan baik yang skala kecil maupun skala besar. Kehadiran pabrik pakan di NTT membutuhkan ketersediaan bahan baku, terutama jagung yang besar.

Dari komposisi pakan, sekitar 60-70 persen adalah jagung. Maka mendorong dan membiasakan petani untuk merubah orientasi usaha tani jagung dari sekedar tanam untuk makan (subsisten) menjadi juga berorientasi bisnis. Dengan demikian cita-cita NTT bangkit, NTT sejahtera dapat tercapai.

Sumber: Kupang Tribunnews