Blog •  24/02/2021

Kurangi Losses, Pemprov Sumsel Ingin Tingkatkan Produksi Padi

© Foto: dok. Pemprov Sumsel
© Foto: dok. Pemprov Sumsel

Jakarta - Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) berupaya menggenjot produktivitas pertanian, khususnya padi. Salah satu upaya yang ditempuh yakni dengan menekan kehilangan panen (losses) tanaman padi.

"Losses ini berpengaruh terhadap jumlah produktivitas. Losses ini harus ditekan seminimal mungkin karena ini angka losses itu berperan besar untuk peningkatan produktivitas pertanian," kata Gubernur Sumsel Herman Deru dalam keterangan tertulis, Selasa (23/2/2021).

Ia menginstruksikan agar kabupaten dan kota yang memiliki lahan pertanian fokus menyikapi angka losses padi, sehingga produksi padi di Sumsel dapat dimaksimalkan. Herman menyampaikan akan dibuat semacam lomba penurunan losses tingkat kabupaten/kota, dengan reward tertentu.

"Tahun ini juga kita akan buat semacam kompetisi tentang losses ini. Artinya penilaian akan kita fokuskan untuk penurunan losses. Kabupaten dan kota harus berlomba dalam menurunkan losses ini sehingga hasil produksi pertanian ini dapat meningkat," imbuhnya.

Dalam upaya meningkatkan produksi padi, Herman juga meminta dilakukan pembenahan terkait data luas baku sawah. Ia menjelaskan kuota pupuk bersubsidi ditentukan oleh Kementerian Pertanian dengan berpatokan pada data Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Artinya lahan cetak sawah yang tidak atau belum terdata di ATR/BPN tidak mendapatkan pupuk bersubsidi.

Dari data yang tercatat di Dinas Pertanian TPH Provinsi Sumsel, pada tahun 2020 luas baku sawah di Sumsel mencapai 539.814,77 hektare. Luas bahan baku sawah tersebut tentu bertambah sebanyak 69.212 hektare dari tahun 2019.

"Data luas baku sawah inilah yang harus dibenahi. Data tersebut harus ada sinkronisasi dengan data BPN/ATR. Karena luasa baku sawah ini yang menentukan kuota pupuk," ulas Herman.

Herman menguraikan berbagai upaya dilakukan Pemprov Sumsel untuk meningkatkan produktivitas pertanian, di antaranya dengan mengangkat 1.000 Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) untuk memberikan pendampingan dan edukasi kepada para petani.

"Artinya kita memang tidak main-main untuk mengembangkan pertanian ini. Apalagi kita juga ditunjuk sebagai daerah lumbung pangan nasional. Meski kita bukan satu-satunya, namun kita merupakan provinsi penghasil beras terbesar di Sumatera dan itu harus kita tingkatkan," seru Herman.

Ia menjabarkan pertanian merupakan sektor yang dapat mensejahterakan masyarakat. Peningkatan produktivitas akan berpengaruh pada kinerja perekonomian.

"Musuh terbesar kita adalah kemiskinan. Pertanian ini dapat menjadi alat untuk menurunkan kemiskinan tersebut. Apalagi saat ini telah didukung infrastruktur jalan yang baik sehingga biaya produksi dapat ditekan, akses menjadi cepat dan harga menjadi lebih murah. Dengan begitu, kesejahteraan masyarakat dapat meningkat," urai Herman.

PLT Kepala Dinas Pertanian TPH Bambang Pramono menimpali saat ini pihaknya tengah berkonsentrasi meningkatan produksi pertanian. Di tahun 2021 untuk tanaman pangan seperti padi ditargetkan dapat mencapai 400.000 ton, jagung 150.000 ton dan kedelai 1.000 ton. Adapun untuk hortikultura seperti cabai ditargetkan mencapai 22.000 ton, bawang merah 1.500 ton dan bawang putih 7 ton.

"Upaya peningkatan itu juga harus ada dukungan dari berbagai pihak. Termasuk juga mendorong penyediaan benih unggul dan alsintan yang harus dimanfaatkan secara maksimal," sebut Bambang.

Sumber: Detik