Blog •  29/03/2021

Produksi Padi Indonesia Terganggu Apabila Hal Ini Terjadi?

© Foto: Dwi Tyas Pambudi
© Foto: Dwi Tyas Pambudi

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyatakan bahwa “salah satu ancaman paling serius terhadap keberlanjutan ketahanan pangan adalah perubahan iklim.”

Program kedaulatan pangan yang dicanangkan pemerintah beberapa tahun yang lalu, memberikan target peningkatan produksi padi sebesar 30 persen setiap tahun. Berbagai upaya telah dilakukan seperti perbaikan sarana irigasi dan membangun kemitraan antar lembaga terkait. Namun perlu disadari adanya beberapa masalah yang dapat menggagalkan program tersebut seperti alih fungsi lahan sawah, pertambahan jumlah penduduk, dan dampak perubahan iklim.

Pangan merupakan kebutuhan pokok manusia. Tanpa pangan keberlangsungan hidup manusia akan terganggu. Kebutuhan akan pangan setiap tahun mengalami peningkatan, berkorelasi dengan pertambahan penduduk. Semakin banyak penduduk, semakin banyak pangan yang harus disediakan.

Mayoritas penduduk Indonesia mengkonsumsi beras. Menurut BPS Angka konsumsi beras nasional pada tahun 2017 adalah 111 kilogram per kapita per tahun. Apabila dihitung dengan total jumlah penduduk Indonesia saat ini total konsumsi beras kurang lebih 30 juta ton per tahun.

Pemenuhan kebutuhan beras secara nasional yaitu melalui produksi dalam negeri dan impor. Produksi beras dalam negeri yang dihasilkan oleh petani berkisar 32 juta ton dengan luas sawah 7,46 juta hektar. Produksi tersebut dapat dipenuhi apabila tanpa gangguan hama dan penyakit serta faktor lain. Namun banyak faktor yang mempengaruhi produksi padi salah satunya adalah pengaruh perubahan iklim. Penurunan produksi padi akan mengganggu pasokan beras nasional dan stabilitas keamanan pangan nasional.

Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Produksi Padi

Perubahan iklim berkaitan dengan kenaikan suhu permukaan bumi yang disebabkan oleh peningkatan emisi karbon dioksida dan gas-gas lain yang tergolong dalam Gas Rumah Kaca (GRK). Gas Rumah Kaca yang menyelimuti bumi mengakibatkan panas terperangkap sehingga meningkatkan suhu bumi menjadi lebih panas. Pada saat ini peningkatan GRK di atmosfer tidak lagi terjadi secara alami namun lebih besar diakibatkan oleh aktivitas manusia (Anthropogenic).

Menurut United Nation Framework Convention On Climate Change atau UNFCCC, Perubahan iklim didefinisikan sebagai bentuk perubahan terhadap iklim yang ada baik disebabkan secara langsung maupun tidak langsung dari tindakan manusia yang memicu perubahan komposisi atmosfer global yang juga berpengaruh pada tingkat variabilitas iklim pada kurun waktu tertentu.

Sebagai sektor strategis dengan jumlah pekerja 33,4 juta, pertanian akan sangat sensitif terkena dampak perubahan iklim karena sektor pertanian bertumpu pada siklus air dan cuaca untuk menjaga produktivitasnya. Seperti halnya budidaya tanaman lainnya, budidaya padi sangat tergantung dengan siklus air dan cuaca. Apabila ketersedian air cukup, kesuburan tanah yang baik, serangan hama penyakit dapat dikendalikan dan cuaca ekstrim tidak terjadi sudah bisa dipastikan produksi akan terjaga.

Indonesia menjadi salah satu negara paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, mulai dari kekeringan, kenaikan air muka laut, gelombang panas, hingga cuaca ekstrem yang semakin sering dan parah. Hal tersebut juga berpengaruh pada sektor pertanian terkhusus pada tanaman pangan. Las dan Surmaini (2011) mengemukakan, pertanian terutama subsektor tanaman pangan paling rentan terhadap perubahan iklim terkait tiga faktor utama yaitu biofisik, genetic, dan manajemen.

Beberepa riset telah dilakukan terkait perubahan iklim pengaruhnya terhadap produksi tanaman pangan. Perubahan iklim telah menimbulkan dampak pada penurunan produksi pangan, khususnya di negara berkembang, termasuk Indonesia. Penurunan produksi pangan terutama disebabkan meningkatnya suhu dan salinitas tanah, cuaca ekstrim yang menyebabkan kekeringan dan banjir, serangan hama dan penyakit dan penurunan kapasitas produksi akibat kerusakan di infrastruktur pertanian.

Beberapa penelitian ditingkat dunia, seperti studi yang dilakukan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) (2007) di daerah tropis menunjukkan bahwa produksi jagung dan padi menurun akibat meningkatnya suhu udara dan perubahan iklim. Kenaikan suhu 2 derajat Celsius akan mengurangi produksi jagung sebesar 20 persen dan produksi padi sebesar 10 persen.

Di tingkat Asia penelitian yang dilakukan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB), hasil riset bahwa Negara Filipina, Indonesia, Vietnam dan Thailand diperkirakan akan mengalami penurunan hasil padi sekitar 50 persen pada tahun 2100 dibandingkan dengan tahun 1990 rata-rata dengan asumsi apabila tidak ada perbaikan sarana teknis. Di Indonesia diperkirakan akan menurunkan produksi padi sebesar 34 persen dan 75 persen di Filipina.

Studi yang dilakukan oleh Naylor et al pada tahun 2007 juga menunjukkan bahwa penurunan produksi pangan terjadi di Jawa dan Bali akibat kekeringan. Penurunan produksi pangan tersebut mencapai 18 persen pada periode Januari sampai April.

Dari beberapa riset yang dilakukan para ahli baik di tingkat dunia, asia dan di Indonesia, dampak perubahan iklim sungguh sangat nyata terjadi pada sektor pertanian terkhusus tanaman padi. Apabila ini tidak segera di atasi bukan mustahil Indonesia akan kekurangan cadangan pangan khusunya beras. Hasil riset tersebut sudah seharusnya menjadi dasar bagi pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintah untuk menentukan langkah-langkah strategis adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat regional khususnya Indonesia.

Sumber: Kumparan