Blog •  27/09/2021

Siswa Ingin Jadi Petani Milenial? Yuk Belajar Teknologi Budidaya Tanaman

© PIXABAY/IAMARERI
© PIXABAY/IAMARERI

KOMPAS.com - Menjadi seorang petani tak harus memiliki lahan atau sawah luas. Sebab, di era modern ini siapa saja bisa jadi petani milenial. Bagaimana caranya? Tentu caranya dengan memanfaatkan lahan di pekarangan rumah. Jadi tidak perlu memiliki lahan yang sangat luas untuk mencoba bercocok tanam. Memangnya bisa bertani tanpa lahan luas atau istilah kerennya urban farming? Tentu bisa, karena sekarang ada banyak teknologi budidaya tanaman yang bisa dicoba di lahan terbatas agar dapat mencoba urban farming.

Melansir laman Direktorat SMP Kemendikbud Ristek, Jumat (24/9/2021) siswa sekolah bisa belajar dan mengenal teknologi budidaya tanaman yang bisa dilakukan di rumah. Hidroponik Hidroponik adalah cara penanaman tumbuhan dengan menggunakan larutan nutrisi dan mineral dalam air dan tanpa menggunakan tanah. Tanaman darat khususnya sayuran seperti paprika, tomat, timun, melon, terong, dan selada dapat ditumbuhkan secara langsung dalam wadah yang berisi nutrisi.

Atau dengan ditambah medium yang tak larut dalam air, misalnya kerikil, arang, sekam, spons, serbuk kayu, dan lain sebagainya. Teknik ini bisa dilakukan di lahan sempit, namun ukuran tanaman yang dibudidayakan harus menyesuaikan dan tidak disarankan menanam buah-buahan yang besar. Kelebihan dari teknik ini adalah panen lebih melimpah dan hemat air. Akan tetapi, biaya yang dikeluarkan cukup mahal.

Vertikultur Vertikultur adalah teknik budidaya tanaman dengan cara membuat instalasi secara bertingkat (vertikal) dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah tanaman. Teknik budidaya ini merupakan konsep penghijauan yang cocok untuk daerah perkotaan dan lahan terbatas.

Siswa dapat mencobanya menggunakan botol-botol bekas ataupun pipa yang disusun secara vertikal. Kalian dapat menggunakan tali-tali untuk mengikat dan menggantungkannya di tembok. Tentunya cara ini dapat menghemat lahan kalian. Aeroponik Untuk aeroponik adalah teknik menanam di udara memang masih kalah populer jika dibanding dengan teknik konvensional maupun teknik menanam dengan air (hidroponik). Pada dasarnya, aeroponik menjadi suatu cara bercocok tanam di udara tanpa menggunakan tanah, yang mana nutrisi disemprotkan pada akar tanaman. Air yang berisi larutan hara itu disemburkan dalam bentuk kabut hingga mengenai akar tanaman, sehingga akar tanaman akan menyerap larutan hara tersebut. Sistem aeroponik dapat memberikan manfaat bagi petani yang tidak mempunyai lahan. Hal ini dikarenakan teknik aeroponik tidak membutuhkan tanah.

Tetapi media tanam yang berupa gabus yang akarnya menggantung di udara sehingga bisa memanfaatkan lahan sempit di pekarangan rumah.

Sumber: KOMPAS