Blog •  25/11/2020

Tanaman Jagung Terendam Banjir

© Foto: Kuatno
© Foto: Kuatno

SUBULUSSALAM - Sedikitnya 17 desa di wilayah Kecamatan Rundeng terdampak banjir yang disebabkan hujan deras selama sepekan terakhir. Selain itu, seluas 384 hektare (Ha) tanaman jagung juga ikut terendam. Petani setempat diperkirakan mengalami kerugian besar akibat peristiwa ini.

Menyusul bencana tersebut, Wali Kota Subulussalam, H Affan Alfian Bintang SE, Senin (23/11/2020), turun ke lapangan meninjau kondisi banjir di permukiman penduduk dan lahan pertanian.

Banjir tahunan mulai melanda daerah aliran sungai Souraya, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, itu pada Minggu (22/11/2020). Camat Rundeng, Irwan Faisal kepada Serambi mengatakan, selain merendam belasan desa, banjir turut menggenangi ratusan hektare lahan pertanian berisi tanaman jagung di Kota Subulussalam.

Menurutnya, setidaknya 17 desa di wilayah Kecamatan Rundeng terdampak banjir akibat hujan  lebat selama sepekan terakhir. Begitupun, tidak ada warga yang mengungsi. Kecuali itu, ada sekitar 384 hektare tanaman jagung masyarakat di Kecamatan Rundeng turut terendam.

Wali Kota Subulussalam, H Affan Alfian Bintang SE bersama rombongan turun langsung ke Kecamatan Rundeng guna memantau kondisi banjir. Dia juga mengecek lahan pertanian berisi tanaman jagung milik petani Kecamatan Rundeng yang terendam.

Banjir yang cukup parah merusak tanaman jagung, sehingga petani bisa gagal panen. “Bencana ini nampaknya sangat parah dan tanaman jagung petani terancam gagal panen,” kata Walkot Affan Bintang.

Sebagaimana diketahui,  jagung merupakan andalan Pemko Subulussalam sebagai program ketahanan pangan di tengah wabah virus corona. Pemko Subulussalam sejak beberapa bulan lalu terus menggerakkan petani untuk pengembangan komoditas jagung di daerah tersebut.

Kegiatan ini sebagai salah satu upaya untuk menjaga ketahanan pangan dalam masa pandemi Covid-19.

Selain mendorong masyarakat agar terus melakukan pencegahan menghadapi Covid-19, kata Sulisman, program pemerintah juga berkaitan dengan ketahanan pangan pada masa pandemi. Sulisman mengharapkan, program pengembangan jagung bisa menciptakan masyarakat yang produktif, berinovasi dalam memulihkan kembali perekonomian selama wabah Covid-19. Namun, musibah banjir yang terjadi justru bisa gagal panen.

Sumber: Aceh Tribunnews